Cerpen "Embun di Hujung Rumput"
"Embun di Hujung Rumput"
Embun di hujung rumput akan segera menghilang ketika
matahari mulai menampakkan sinarnya. Iya, tidak ada yang abadi selama-lamanya
bagai embun di pagi hari. Tetesan embun di pagi hari, mengalir mengisi dalam
jiwa, terungkap akan makna suatu arti. Belajar untuk hargai makna hidup ,
hargai setiap detik waktu yang telah dijalani tuk terus dapat ikhlas dan dapat
terus bersyukur.
Butiran tetes embun di pagi hari terdapat di depan
suatu apartemen yang penuh dengan rumput dan bunga. Di dalamya terdapat seorang
wanita dewasa, periang dan sabar sebut saja Zahra Permata Indah. Waktu
menunjukkan sholat subuh, mata yang sangat indah sesuai dengan namanya terbuka
perlahan dan tersenyum melihat jam dinding depannya yang mengharuskannya terbangun.
Setiap terbangun Zahra tersenyum untuk mengawali
indahnya kehidupan yang sekarang sedang ia jalani, dia juga tak lupa bersyukur
dan berdoa kepada Tuhannya. Zahra terbangun membereskan kamar tidurnya dan
segera berdoa.
Usai berdoa dia memasak untuk sarapan. Zahra seorang
wanita yang mandiri dan tidak pernah mengeluh. Setelah memasak Zahra
menghidupkan TV sambil memakan sarapannya.
“Berita
sekarang bener bener ngeri, moral manusia saat ini sangat nol”. Gumam Zahra
menelan makanannya, setelah melihat berita di TV .
Berita yang
ia lihat semuannya melaporkan perampokan, tindak asusila dan pembunuhan. Zahra
menjadi lebih berhati-hati lagi karena ia sekarang hidup di kota besar untuk
mengejar karir yang jauh dari keluarganya.
Zahra siap berangkat kerja, sebelum berangkat ia
selalu menyempatkan berdiam diri di depan taman indahnya walau hanya untuk
melihat maupun menghirup udara segar.
“Hai embun,
kau menghiasi pagi ini dengan sangat indah. Sayang hanya saat pagi aku
melihatmu” Ucap Zahra sambil melihat embun di hujung rumput kemudian ia
pergi berjalan kaki karena kantornya yang berada tidak jauh dengan apartemennya.
…
Zahra sampai di kantor, seperti biasa di atas
mejannya terdapat coklat dengan sticky note .
“Di makan dan abisin yah jelek, biar kamu gendut”
isi surat yang selalu sama.
Zahra tersenyum dan langsung melihat ke depan setelah mejanya. Dia adalah sahabat Zahra
semenjak kecil dan sekarang kerja di kantor yang sama bernama Bastian Anggoro. Bastian seorang yang sangat
baik, perhatian dan keren. Bastian sangat perhatian dengan sahabat sahabatnya
termasuk Zahra, dia tidak pernah membedakan teman temannya.
“Makasih“
Bisik Zahra dengan senyuman manisnya dan diakhiri dengan menjulurkan lidah yang
ditunjukkan pada Bastian.
Dari belakang meja ada seorang senior yang sudah
cukup umur,
“Duuh kalian ga jadi pasangan
aja, udah cocok kalian” Goda pak Gunawan yang menyayangi Zahra seperti
anaknya.
“Iyaa bener tu
pak, mereka nunggu apa sih” sahut Citra yang berada di samping meja Zahra yang sangat setuju dengan pendapat pak gunawan karena Zahra dan Bastian Terlihat sangat cocok sebagai seorang kekasih.
“Hemm, Zahra
udah nolak aku 100x pak. Udah males aku nembak dia hahaha” jawab Bastian bercanda sambil ketawa.
Bastian memang pernah suka dengan Zahra namun dia
tidak pernah menyatakan cintanya karena dia tau Zahra hanya menganggap dia sebagai
sahabat. Bastian juga sudah berkomitmen kalau ia akan selalu menyayangi Zahra
sebagai seorang adik karena Zahra seperti adiknya yang sudah meninggalkan dia 3
tahun lalu. Bastian 4 bulan lebih tua dari Zahra.
“Hahahaha,
calonku mau dibawa kemana pak” jawab Zahra sambil ketawa
…
Waktu menunjukkan jam istirahat, Zahra dan
sahabat-sahabatnya bernama Tessa dan Rihana pergi makan ke kantin. Sampai di
kantin, seperti biasa mereka memilih tempat yang dekat dengan jendela sehingga
mereka bisa melihat pemandangan kota yang penuh dengan gedung gedung dan
jalanan yang macet. Setelah mereka mencatat pesanan, datang Bastian dan
Reihan.
“Malam ini
kita nonton yuk, ada film bagus nih” Ajak Rey kepada sahabat-sahabatnya.
“Hayuk, ikut
semua dong” Sahut Tessa merayu sahabat-sahabatnya agar semuanya ikut.
“Yuk”
Sahut Rihana dan Bastian bersamaan, kemudian mereka berempat secara bersamaan
menengok Zahra yang sembari tadi tidak bersuara.
“Aku…… maaf
yah malam ini Faisal mau ketemu aku”Ucap Zahra dengan muka lucunya sambil
melihat sahabat sahabatnya yang menaikkan alis bermaksud bertanya pada Zahra
ikut atau tidak.
Bastian dan sahabat
sahabatnya ingin sekali bisa berangkat dan menonton bersama, tetapi karena Zahra
sudah ada janji sebelumnya terpaksa mereka pergi tanpa Zahra meskipun terdapat
kekecewaan di hati mereka.
…
Zahra membereskan meja kerjannya yang sedang
berantakan, Bastian yang dari musholah mengganggu Zahra.
“ih kamu
baaassssss” Teriak Zahra yang kesal
dengan kejahilan Bastian.
Kemudian di pintu datang Faisal menjemput Zahra yang
letak kantornya tidak jauh dengan kantor Zahra, berjalan menuju meja Zahra yang sedang membereskan dokumen.
“Hai Sal, cewe
kamu nungguin tu sampe ngomel-ngomel sama aku terus” Ucap Bastian sambil
menepuk pundak Faisal. Mendengar pernyataan Bastian, Faisal hanya tersenyum dia tahu sekali bagaimana persahabatan Bastian dan Zahra yang sangat dekat dan selalu bertengkar.
“Hai yang,
bentar yah beresin dokumen dulu. Tadi di berantakin lagi sama Bastian jadi
begini” Zahra yang lagi kesal karena dokumen di mejanya
yang sudah ia rapihin malah Bastian diberantakin lagi.
“Iya gapapa
sayang” Ucap Faisal dengan suara khasnya, kemudian Faisal membantu Zahra
yang sembari tadi menggerutu.
Setelah selesai beberes kemudian mereka pergi ke
tempat biasa mereka kunjungi, restaurant Jepang. Zahra suka sekali dengan negara yang tumbuh banyak bunga sakura hingga makananpun dia memilih makanan jepang sebagai makanan favoritnya.
“Gimana
kerjaan kamu yang?” Tanya Faisal memulai.percakapan
“Hemm
iya seperti biasa yang banyak, karena sebentar lagi audit, kamu
gimana? “ Jawab Zahra tersenyum
dengan pipi tomatnya.
“Hemm gitu
yah, kalau aku banyak banget yang. Pusing karena bosku dipindahkan jadi nanti
tanggung jawab bagian fasilitas gedung semuanya di serahkan ke aku”. Jawab
Faisal menjelaskan pekerjaannya. Faisal sangat nyaman ketika sudah berbicara
dengan Zahra karena ia merasa berada didekat Zahra seperti halnya dekat dengan
Ibunya.
Zahra selalu mendengarkan keluh kesah Faisal, setiap
hari laki-laki ini bercerita baik masalah kantor, teman bahkan keluarganya. Zahra
seorang pendengar yang baik dan selalu memberi semangat sehingga membuat Faisal
senang mengeluh padanya.
“Hemm sabar
yah yang, Kerjain dengan ikhlas Insyaallah berkah untuk kamu” Zahra memberi
semangat dengan suara lembut dan senyumannya yang manis.
“Makasih yah
yang, kamu emang seperti mama. Ingin sekali segera aku menikahimu kekasihku”
Ucap Faisal yang tenang karena sudah mengeluarkan keluh kesahnya.
“Aamiin” Zahra
mengamini segera dinikahi oleh kekasih yang sangat ia sayangi, Faisal. Zahra
mulai yakin dengan Faisal yang selalu ada ketika dia membutuhkan dan sangat
perhatian padanya. Zahra sebelumnya sempat ragu dengan sifat kekanakan dan
emosional Faisal. Namun Zahra mencoba menerima kekurangan Faisal, karena ia
tahu pada hakekatnya tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.
“Yang, kamu
inget kan sama Cyntia ?” Tanya Faisal kepada Zahra mengingatkan temen kecil
Faisal yang sudah lama tidak bisa dihubungi.
“Hemm iya
inget temen kecil kamu yang kamu ceritain itu kan?” Jawab Zahra yang sedang
mengingat cerita Faisal.
“Cyntia chat
aku semalam, dan dia kaget aku punya pacar. Aku ceritain kamu yang sangat
pengertian sama aku yang. Kemudian aku ajak dia ketemuan, dia ga mau yang
karena aku punya pacar” Faisal menceritakan temen kecilnya dengan semangat.
Faisal sering sekali menceritakan wanita-wanita lain di depan zahra tetapi dia tidak pernah memikirkan terlebih dulu apa yang perlu diceritakan atau tidak pada pasangannya. Faisal sangat kekanakan yang tidak tahu bagaimana perasaan
seorang wanita jika pasangannya selalu menceritakan wanita lain. Walaupun wanita itu tau kalau yang diceritakanya hanya seorang teman.
Faisal bukan kali pertama ia menceritakan wanita
lain didepan Zahra, Zahra hanya tersenyum saat mendengar cerita Faisal tentang
teman-teman wanitanya.
“Haruskah kamu
ceritakan teman-teman wanitamu dihadapanku sal, tidakkah kamu memikirkan
perasaanku sal?” Zahra berucap dalam hatinya saat mendengarkan Faisal
bercerita.
Faisal belum juga berubah, Zahra sudah memberikannya
kesempatan berkali-kali. Tetapi kesalahan yang sama menceritakan wanita lain, selalu diulangi oleh Faisal.
Namun hal ini tidak membuat keyakinanya menikah dengan Faisal berubah. Zahra
hanya berharap lelaki yang dia cintai akan berubah dan mengerti perasaannya.
…
Keesokan harinya, Zahra melihat bunga-bunga yang mekar di halaman
apartemennya, terdengar teriakan cowo yang suaranya tidak asing di sebelah
kamar apartemennya.
“Hey jelek
kemana kamu hari ini,?” Teriak Bastian sedang berdiri di depan apartemennya
yang terdapat ayunan.
“Ihh, kamu
lagi si bas. Ga kemana-mana aku, Faisal lagi sibuk” Jawab Zahra dengan muka
manyun. Zahra menjadi wanita manja ketika sedang bersama Bastian teman kecilnya.
“Yaudah
jogging yuk, temenin aku sekali kali Jelek. Jangan Faisal terus yang kamu temenin”
Ajak Bastian yang sekarang perutnya
mulai buncit karena harus memakan makanan Zahra yang tidak pernah habis setiap
makan.
“Hemm, tumben kamu
mau jogging biasanya tidur terus” Ledek Zahra yang jarang melihat
sahabatnya jogging.
“Kamu mah
komentar aja, mau nemenin ga?”Ajak Bastian sedikit kesel dengan Zahra yang
meledeknya.
“Hemm ok,
tunggu aku ganti baju dulu yah” Ucap Zahra segera masuk kamarnya dan mengganti
baju olahraga.
Setelah selesei bersiap Bastian menunggu di depan
pintu apartemen Zahra, kemudian keluar Zahra dengan setelan baju olahraga.
Kemudian mereka jogging mengelilingi taman kota yang sedikit sejuk. Bastian berada 3 meter di depan Zahra. Tiba-tiba Zahra berhenti karena sepatunya yang sudah lama mulai rusak.
Kemudian mereka jogging mengelilingi taman kota yang sedikit sejuk. Bastian berada 3 meter di depan Zahra. Tiba-tiba Zahra berhenti karena sepatunya yang sudah lama mulai rusak.
“Baaaaass,
tungguin aku” Teriak Zahra memanggil Bastian, dari arah depan Bastian
menghampiri Zahra yang sedang menunduk sambil menyentuh sepatu rusaknya.
“Kenapa sepatu
kamu jelek? Tanya Bastian yang ikut menunduk.
“Sepatu aku
rusak Bas ”Ucap Zahra mengeluh dengan muka sedihnya.
“Aduh, kamu
ada-ada aja sih jelek. Terus masih
bisa dipake ga itu?” Tanya Bastian
yang sedikit bingung dengan sahabat yang sangat ia sayangi.
“yaaaaah, udah
ga bisa Bas” Jawab Zahra dengan muka memelas sambil memegang sepatu
rusaknya.
Dengan tidak ragu Bastian melepaskan sepatunya untuk
diberikan kepada sahabatnya. Sebenarnya Bastian juga ragu karena ukuran kaki
mereka jauh berbeda, daripada melihat sahabatnya jalan tanpa sepatu lebih aneh
pikirnya.
“Nih pake
sepatu aku” Bastian menyerahkan sepatunya untuk Zahra pakai.
“Terus kalau aku
pakai sepatunya, kamu gimana?” Ucap Zahra yang mau memakai sepatunya,
tetapi dia bingung bagaimana dengan Bastian kalau sepatunya ia pakai.
“Aku kan
cowok, kalau aku ga pakai sepatu ya biasa aja. Nah kamu cewek ga pakai sepatu,
apa kata orang yang lihat?” Ucap Bastian menjelaskan kalau dia tidak
apa-apa kalau tidak memakai sepatu.
Kemudian Zahra memakai sepatu Bastian, sedangkan
bastian menyeker dan membawa sepatu Zahra. Persahabatan mereka membuat semua
orang yang melihatnya iri dan terkadang mereka terlihat seperti sepasang
kekasih. Tetapi di hati keduannya tidak memiliki rasa sama sekali selain rasa
sayang sebagai sahabat.
Bastian pernah memiliki rasa pada Zahra tetapi
setelah mereka berkomitmen untuk bersahabat, Bastian mengganti rasa suka
menjadi sayang sehingga tidak membuatnya sakit walaupun hanya sebatas sahabat.
Menurut kebanyakan orang, tidak mungkin bisa persahabatan antara lelaki dan
wanita tanpa ada rasa cinta, tapi mereka berdua membuktikannya kalau tidak ada
yang tidak mungkin di dunia ini bahwa ada persahabatan tanpa cinta seperti
mereka.
Setelah jalan beberapa meter, Zahra mulai tidak nyaman
dengan sepatu besar milik Bastian yang berukuran 42 cm sedangkan Zahra memakai
sepatu ukuran 38 Cm. Kemudian di depan mereka berdiri ada tempat duduk taman
yang sedang kosong.
“Berhenti dulu
yuk Bas, cape pakai sepatu kamu” Minta Zahra pada Bastian agar berhenti tepat di
tempat duduk, Zahra juga melihat Bastian yang sudah kelelahan karena jarang
berolahraga.
Bastian dengan keringat bercucuran di
sekujur tubuhnya mengiyakan ajakan Zahra untuk beristirahat. Kemudian mereka berdua duduk sambil mengelap keringat mereka yang mengalir.
“Bas”
Panggil Zahra sambil mengikat rambutnya yang baru saja dia benahi.
“Hemm”Jawab
Bastian yang sedang melihat telapak kakinya yang merah akibat jalan tanpa
sepatu.
“Aku baru
inget, gimana kabar wina?”Tanya Zahra tentang gebetan sahabatnya itu.
“Hemm, kamu
sih sibuk sama Faisal mulu. Ga tau kan kabar aku sama wina.” Jawab bastian
dengan muka sedikit kesal karena sahabatnya tidak pernah ada waktu buat dia
karena sibuk dengan pacarnya.
“Ehh serius aku
bassss” dengan nada serius Zahra
bertanya.
Bastian menjelaskan kalau dia tidak lagi berhubungan
dengan Wina karena Bastian merasa belum siap menikah dalam waktu dekat
sedangkan Wina ingin menikah muda. Demi kebaikan Wina, Bastian memilih mundur
dan meminta Wina mencari laki-laki lain yang bisa menikah dengannya dalam waktu
dekat.
“Aku memilih
lepasin dia, karena aku gak mau dia menunggu aku lama dan pada ujungnya aku ga
sama dia” Ucap Bastian mengakhiri penjelasan tentang hubungannya dengan
Wina.
“Bassss, ko kamu
jahat sih. Sumpah kamu jahat banget Bas, terus Wina gimana? “ Terkejut Wina
dengan keputusan sahabatnya yang jahat itu.
“Wina awalnya ga
terima. Tapi lama-lama dia menerima ko. Terus gimana kamu sama Faisal kapan
nikah?” Tanya Bastian tentang keseriusan hubungan Zahra dan Faisal.
“Ihh Kamu
jahat, tapi kalau ngomongin masalah jodoh mah kita ga tau yah Bas. Hemm, ga tau
aku Bas. Aku udah mulai yakin sih sama Faisal dan mencoba menerima sifat dia
yang kekanakan dan emosional itu Bas. Tapi dia masih belum berubah, dia masih ngomongin
wanita di depan aku, selain itu dia juga bandingin aku sama temen-temen wanitanya
Bas” Curhat Zahra tentang Faisal yang belum berubah membicarakan wanita
lain didepannya.
“Yaudah yang
penting kamu sudah yakin dan menerima kekurangan dia, kalau masalah itu kan kamu
tau kalau sifat dia kekanakan suka ngomongin temen wanitanya. Aku yakin kamu
tau mana yang baik buat kamu karena kamu itu dewasa Jelek. Tapi aku cuma mau
kasih saran ke kamu kalo kita sudah yakin sama seseorang banyak masalah yang
datang. Kamu jangan goyah hanya karena dia ngomongin wanita lain di depan kamu
daripada dia ngomongin di belakang kamu” Bastian memberi nasihat pada
sahabatnya ia tidak ingin kalau sahabatnya mengambil keputusan tanpa berfikir
terlebih dahulu.
…
Di tempat yang berbeda dari Bastian dan Zahra,
ruangan yang luas terdapat banyak meja satu set dengan computer dan tempat duduk.
Pada sudut ruangan terdapat dua orang sedang mengerjakan laporan.
“Bang
aku rasa sudah yakin dengan Zahra dan ingin menikahinya 2 tahun lagi, menurut
abang gimana” Tanya Faisal pada seniornya ingin tahu
bagaimana pendapatnya yang serius pada Zahra karena ia sendiri belum yakin
dengan keputusan yang diambilnya.
“Zahra menurut
abang bagus untuk masa depan kamu, dia dewasa dan bisa ngertiin kamu yang
kekanakan selain itu, dia juga cantik. Jangan sia-siain Zahra sal, dia wanita
yang baik” Jawab senior Faisal bernama Anton yang sangat dekat dengan
Faisal, selain itu Anton juga sudah pernah bertemu dengan Zahra saat acara 7
bulan istrinya.
Faisal sangat senang mendengar komentar Anton
mendukung keputusanya untuk menikahi wanita yang sangat ia cintai. Tetapi dalam
hati Faisal masih bekamlum yakin dengan keputusannya karena dia takut Zahra
akan menderita karena selalu mengalah dengan sifat kekanakan nya.
“ Tapi bang
kadang aku kasian sama Zahra yang selalu mengalah dan mencoba ngertiin aku”Tanya
Faisal lagi pada Anton
“makanya kamu
jangan sia-siai zahra yang sudah ngertiin kamu, jarang wanita seperti dia. Dan
kamu juga harus mencoba dewasa” Ucap
Anton mengingatkan Faisal untuk tidak menyia-nyiakan wanita sebaik Zahra.
Setelah mereka selesai berbicara terdengar suara
nada chat “Yang jangan lupa makan yah, sayang kamu “ isi chat singkat Zahra di handphone Faisal, Faisal
tersenyum lebar dan langsung membalas chat Zahra.
“Ya sayangku,
kamu juga yah. Aku mau ketemu sama Rio dan Dino abis pulang kantor. Sayang kamu
juga” Isi balasan chat Faisal yang ditujukan untuk Zahra
Kemudian Faisal Pulang dan bertemu dengan Rio dan
Dino yang sudah menunggu di tempat mereka biasa bertemu.
“Hey sorry aku telat” Ucap Faisal pada
teman temannya.
“Kamu abis
dari kantor atau pacaran sama zahra?” Tanya Dino yang sedikit iri dengan
hubungan Faisal dan zahra karena mereka terlihat sangat harmonis, jarang sekali
ada pertengkaran.
Mereka memesan kopi dan makanan untuk menemani obrolan,
Rio yang baru selesei bertemu dengan selingkuhannya bertanya pada faisal apakah
tidak bosan hanya memiliki pacar seorang yaitu Zahra.
“Sal, Emang kamu
ga bosen pacaran sama Zahra, kamu gada niatan buat jalan sama wanita lain?”
Tanya Rio kepada Faisal dengan penuh penasaran
“Aku
ga mau selingkuhin Zahra Ri, dia wanita yang baik selain itu juga pernah
diselingkuhin sama mantan pacarnya. Aku ga mau Zahra sakit”
Ucap Faisal yang kadang iri juga melihat teman-temannya berganti-ganti wanita,
tapi disisi lain dia ingin serius dengan Zahra wanita yang sangat dewasa dan
selalu mengerti.
“Kamu sudah
yakin dengan Zahra?”Tanya Dino yang juga penasaran dengan Faisal
“Aku pengen
banget nikahin Zahra dalam 2 tahun kedepan”Jawab Faisal yang sedikit ragu
dengan perkatannya.
“Serius kamu,
kita baru umur 23. Kamu siap nikah? Punya anak gitu? Ngapain sih kamu serius mikirin
wanita, hidup kita masih panjang gapai aja dulu cita-cita kita entar juga wanita
baik dan cantik bakal datang kok” Jawab Rio yang terkejut mendengar
pernyataan teman kecilnya itu. Rio adalah anak satu-satunya di rumah dan dia
masih belum memikirkan tentang pernikahan sehingga mndengar Faisal memutuskan
menikah 2 tahun kedepan membuatnya terkejut.
“Hemm ga tau aku
juga belum yakin sih”Jawab Faisal mendengar pernyataan Rio dengan ragu.
Faisal adalah orang yang baik tetapi dia tidak mempunyai pendirian yang kuat,
dia seorang laki-laki yang tidak bisa mengambil keputusan sendiri dan selalu mendengarkan perkataan orang lain. Ketika teman-temannya berbicara seperti itu membuatnya menjadi bingung.
…
Sebulan setelah mendengar pernyataan teman-temannya
Faisal memikirkan kembali keputusan yang sempat ia ambil untuk menikahi Zahra.
Sebagai seorang laki-laki Faisal tidak dapat membohongi dirinya sendiri kalau dia
bosan kalau hanya berpacaran dengan Zahra, ia juga ingin jalan dengan wanita
lain seperti halnya Rio dan Dino. Selain itu juga dia merasa belum cukup mapan
untuk menuju ke pernikahan.
Faisal dalam perjalanan pulang bersama seniornya yaitu
Anton, dia bertanya bagaimana pendapat Anton kalau Faisal putus dengan Zahra “Bang menurutmu bagaimana kalau aku putus
dengan Zahra?”Tanya Faisal sedikit ragu
“Ehh serius
kamu? Apa alasan kamu? Bukannya kemaren-kemaren kamu sudah yakin dengan Zahra?”
Sontak Anton terkejut mendengar pernyataan Faisal yang ingin memutuskan hubungan
dengan Zahra yang sebelumnya Faisal bilang sudah yakin dan memantapkan diri
akan menikahi Zahra.
“Ga tau bang,
aku ngerasa udah gada rasa lagi sama Zahra. Udah biasa-biasa aja rasa aku sudah
hilang. Aku ingin jalan dengan teman-teman wanitaku tanpa harus menyakiti hati
Zahra bang” Ucap Faisal menjelaskan perasaannya yang mulai hilang pada
Zahra .
“Kalau menurut
abang, perasaan kamu sekarang Cuma bosen saja Sal, pikirin baik-baik lagi kamu
mau putusin Zahra. Jangan kamu terburu-buru hanya karena bosan, nantinya kamu
nyesel dengan keputusanmu. Karena jarang sekali wanita seperti Zahra.
“Pesan Anton sebagai orang yang sudah berpengalaman pada Faisal yang sudah ia
anggap adik sendiri.
“Hemm ya bang,
aku tau itu. Makanya aku sedikit ragu dengan keputusan aku ini, aku takut
nyesel bang. Sebenarnya aku ga tau dengan perasaan aku yang sekarang bang apa
hanya bosan atau sudah tidak ada rasa lagi dengan Zahra” Faisal masih
bingung dengan perasaanya yang dialami sekarang, ia takut perasaanya hanya
sesaat dan dia juga menyadari kalau dia orang yang labil.
“Yaudah begini
saja, kamu coba break dengan Zahra, kalian tidak bertemu selama sebulan
bagaimana perasaan kamu sama Zahra setelah tidak bertemu dengannya” saran
Anton untuk mengetahui bagaimana perasaan sebenarnya Faisal saat ini.
Faisal mencoba mengikuti saran Anton, dia juga ingin
tahu perasaan apa sebenarnya yang dialami sekarang. Kemudian Faisal menghubungi
Zahra yang mulai jarang berhubungan, sebelumnya mereka sangat intens saling
memperhatikan tetapi Zahra sepertinya sudah mulai merasa ada yag berbeda dengan
Faisal.
Faisal sampai di rumah, kemudian dia membersihkan
diri untuk bersiap-siap tidur. Terdengar suara nada handphone “Sayang aku rasa ada yang berbeda denganmu?
Apakah kita ada masalah?” Isi pesan dari arah Zahra
Faisal merasa sekarang waktu yang tepat untuk
menjelaskan perasaanya yang bingung terhadap Zahra hanya bosan ataukah sudah
tidak lagi punya perasaan pada wanita dewasa ini.
“Kamu
benar sayang, ada yang berbeda dengan perasaanku sekarang. Sebenarnya tidak ada
masalah diantara kita. Tapi masalahnya didiri aku sayang, aku bingung dengan perasaanku saat
ini. Aku tidak lagi punya perasaan denganmu sekarang” Faisal menjelaskan perasaanya
dengan ragu karena takut menyakiti wanita baik itu.
Zahra yang sudah mulai merasa perbedaan Faisal dan
sempat menduga kalau Pacarnya tidak lagi mencintainya sedikit bingung dan
kemudian bertanya pada Faisal “ Ternyata
benar dugaanku yah, kamu sekarang
tidak lagi punya perasaan denganku. Tapi kenapa yang? Apa permasalahanya?” Tanya
zahra ingin mengetahui alasan Faisal yang sebenarnya.
Melihat pesan Zahra, Faisal merasa sakit tapi dia
juga tidak ingin membohongi perasaan dia yang sudah tidak mencintai Zahra lagi
“Aku juga tidak mengerti dengan
perasaanku saat ini sayang, bosenkah atau apa. Tapi yang jelas aku tidak mau
membohongi perasaanku sendiri dan menyakiti kamu sayang. Sebenarnya aku ingin
jalan dengan teman wanitaku tanpa menyakiti kamu” Jawab Faisal sambil
berkaca-kaca.
Zahra sangat terkejut dengan alasan Faisal yang
bosan dan ingin berjalan dengan wanita lain. Hati Zahra sangat sakit mendengar
pernyataannya, laki-laki yang dia cintai begitu tega berbicara seperti itu di
depannya. Zahra yang sedang berada di tempat tidurnya menghapus air pada
pipinya yang mengalir dari sudut matanya, iya Zahra menangis karena dia sudah
yakin kalau laki-laki ini ia pilih sebagai pendamping hidupnya. Tapi ia
berusaha tegar dan bertanya sebenarnya apa mau Faisal untuk hubungan mereka
sekarang.
“Ok kalau
begitu, terus apa mau kamu sekarang?” Zahra mengetik pesan sambil menghapus
air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
“Ya Tuhan,
ujian apakah ini? Aku yang mulai yakin dengan dia tapi kenapa sekarang dia
sudah tidak lagi mencintaiku. Tuhan, Engkau sungguh Maha membolak balikan hati
seseorang” Ucap Zahra dalam hatinya.
Dari arah sebrang, Faisal membalas chat Zahra “Kalau kata bang Anton aku hanya bosan dengan
aktivitas kita yang selalu sama. Bagaimana kalau kita sebulan tanpa bertemu?” Tanya Faisal yang juga
menangis karena dia bingung perasaannya sendiri.
“Ok,
tapi kita tetap komunikasi kan? Akan aku biarkan kamu berfikir dan silakan kamu
jalan dengan teman wanitamu, aku ikhlas dan akan ku tunggu keputusanmu sebulan
kemudian” Zahra mengetik dengan gemetar, dia masih tidak
percaya dengan masalah yang dia hadapi saat ini.
Perbincangan mereka lewat hand phone berakhir dan
hari mulai gelap keduannya tertidur lelap.
…
Zahra seperti biasa sebelum berangkat kerja
berdiam diri melihat taman kecilnya yang dipenuhi rumput dan bunga. Namun kali
ini dia hanya diam, tidak seperti biasanya hanya diam. Keceriaannya setiap pagi
tidak ditemui pada pagi ini menyapa pun ia seolah enggan.
Embun di hujung rumput yang selalu disapannya juga
merasa sedih dan ingin protes karena tidak dihiraukan oleh tuan rumahnya dan dia tidak melihat
senyum sumringah yang indah dari wajah Zahra.
“Kenapa dengan
manusia ini, mana senyumanya? Mana keceriannya? Mana sapaannya?”Ucap
embun-embun di ujung rumput.
Zahra sampai di kantor dengan matanya yang sembab melihat
coklat dan sticky note seperti biasa dari Bastian berada di mejanya. Namun kali
ini dia lagi-lagi diam.
Bastian sedang di mejanya yang siap-siap menunggu senyuman Zahra. Tapi Bastian kali ini tidak melihat wajah ceria
Zahra, yang ia lihat muka murung dan mata sembab.”Kenapa si jelek yah?”Tanya Bastian dalam hatinya. Bastian ingin
sekali menanyakan keadaan sahabatnya tetapi terpaksa harus dia tunda karena
waktu kerja sudah dimulai.
Jam istirahat sudah tiba, Tessa dan Rihana yang
mejanya jauh dengan Zahra menghampiri untuk mengajak makan di kantin. “Zahra ayook kita ke kantin” ajak Tessa
“Aku males
makan tes” Jawab Zahra sambil membereskan dokumen-dokumen di mejanya yang
mulai menumpuk.
Rihana yang melihat ada perbedaan dari Zahra dan
sempat chating dengan Bastian tentang Zahra hari ini langsung menarik tangan
Zahra ”Udah hayok makan, tar kamu tambah
kurus terus tambah jelek. Mau kamu? “ajak Rihana memaksa Zahra. Kemudian
zahra terpaksa ikut meskipun dia sedang tidak ingin melakukan apa-apa.
Setelah memesan makanan, zahra terus diam. Rihana
dan Tessa melihat Zahra diam, mereka sebagai sahabat yang baik ingin tahu apa
yang terjadi pada zahra “Zah, kamu
kenapa? Cerita sama kita?”Tanya Rihana.
Mendengar pertanyaan sahabatnya, tiba-tiba butiran
air mata menetes di pipi merona Zahra kemudian Zahra langsung menghapusnya.
Melihat air mata di wajah ceria sahabatnya, sontak Tessa
dan Rihana terkejut dan langsung memeluk Zahra. “kamu kenapa zah?” Tanya Tessa dengan nada yang sangat lembut sambil
memeluk zahra.
“Faisal minta break
“Jawab Zahra yang semakin keras isak tangisnya, sebenarnya ia tak ingin
membicarakannya karena begitu sakit ia rasakan ketika membahas masalahnya.
“Ya Tuhan, kenapa Faisal minta break zah?” Tanya Tessa yang semakin terkejut mendengar pernyataan sahabatnya, yang dia tahu selama ini Faisal sangat yakin dengan Zahra. Begitu juga dengan Rihana, dia hanya diam tanpa berkata apapun arena sangat terkejut mendengearnya.
“Aku
bener-bener ga ngerti alasan dia” Jawab zahra yang masih menangis dan mengelap
air matanya.
Rihana yang melihat sahabatnya menangis berusaha
menenangkan Zahra “Zah tenang aja, kalau
dia jodoh kamu akan balik lagi ko. Biarkan dia dengan hatinya yang sedang
bingung” Rihana mencoba bersikap dewasa agar sahabatnya lebih tenang.
“Malam kita
jalan yuk, lama kita ga jalan bareng” Ajak Tessa jalan, makan dan menonton
bersama untuk menghilangkan kesedihan Zahra dan sejenak melupakan Faisal.
Zahra sangat beruntung memiliki teman yang selalu
ada untuknya, bahkan ketika sedang sedih mereka siap dengan bahu nya kapanpun
sahabatnya membutuhkan. Zahra dan sahabat-sahabatnya pergi jalan dan hal ini
membuat zahra melupakan masalahnya sejenak.
Waktu menunjukkan 22.00 wib, Zahra dan
sahabat-sahabatnya baru selesei menonton
Film. “ Udah jam 10 nih, Zah kamu berani pulang sendiri?”Tanya
Tessa yang bingung karena arah rumah
mereka berlawanana dengan apartemen Zahra.
“Jangan, aku
sudah hubungin Bastian ko buat jemput Zahra, bentar lagi Bastian nyampe”
Rihana menghubungi Bastian dan memintanya menjemput zahra karena ia takut
kenapa-kenapa dengan Zahra, melihat berita-berita sekarang yang menyeramkan
apalagi dengan keadaan zahra sekarang yang sedang lemah.
Tak lama Bastian sampai dan menghampiri Zahra dan
sahabat-sahabatnya. “Hey, kalian sudah
selesei nonton? Sorry kalo lama tadi anter rey dulu” Ucap Bastian dengan
nafas yang terengah-engah karena dia berjalan cepat takut sahabatnya menunggu
lama.
“Hey,
ga ko. Baru aja kita keluar kamu dibohongin sama Rihana yah”
Ucap Tessa sambil ketawa melihat tampang Bastian yang kecapean dan membuat
Zahra dan Rihana juga ikut ketawa.
“Jahat banget
kalian ngetawain aku, tadi aku jalan cepat soalnya kalo ga kalian ngomel Rihana
bilang udah lama keluar bioskop” Ucap Bastian sedikit kesal sambil menunduk
kecapean.
“Berhubung
Bastian udah ada, kita pulang yah. Tetap tersenyum sahabatku, dan kamu Bas
jagain Zahra yah”Ucap Rihana memberi semangat pada sahabatnya sambil mengancam
Bastian.
“Iya makasih
ya teman-teman, hati-hati yah kalian” Ucap Zahra tersenyum sambil
melambaikan tangannya.
“Hey jelek,
gendong aku” Canda Bastian sambil memegang pinggangnya pura-pura sakit.
“Mau aku cubit
pinggang kamu basss?“ Teriak Zahra yang kesal dengan kelakuan sahabatnya.
“Ni cubit”
Tantang Bastian sambil menyodorkan pipinya di depan wajah Zahra.
“Ihhh Basss,
males banget aku sama kamu” Teriak Zahra tepat di telinga Bastian.
“Aduh za,
sakit telinga aku” Ucap Bastian sambil memegang telinganya yang kesakitan
beneran akibat teriakan Zahra yang kencang bak toa Masjid.
“hahahahaha”
Zahra ketawa terbahak-bahak melihat sahabatnya kesakitan akibat ulahnya, di
samping itu Bastian senang melihat Zahra ketawa yang sangat lepas. Bastian
sudah tau masalah yang dihadapi Zahra karena selama di kantor Rihana memberitahu
Bastian tanpa sepengetahuan Zahra.
Kemudian Zahra dan Bastian pulang menggunakan mobil,
sepanjang perjalanan
Bastian menghidupkan musik agar suasana tidak membosankan.
Lagu yang dihidupkan begitu ceria hingga Bastian ikut bernyanyi, tapi entah
kenapa Zahra malah menitihkan air matanya kebalikan dari lagu yang Bastian
putar.
Bastian yang sedang asik bernyanyi dia mencoba
melihat Zahra yang dari tadi diam tanpa kata
“ Jelek ko kamu diem aja “ Ucap Bastian
sambil menoleh ke arah Zahra yang duduk di sampingnya.
“Zah kamu
kenapa?”Tanya Bastian pura-pura tidak mengetahui masalah Zahra.
“Faisal jahat
Bas, dia minta break dengan alasan bosan dan ingin jalan dengan temen wanitanya
dan ingin merasakan jalan dengan wanita lain. Kalau seperti itu kenapa minta break
kenapa ga langsung minta putus saja” Zahra menangis dengan isak tangis
semakin keras menjelaskan dengan gamblang tentang masalahnya saat ini.
Bastian yang sedang menyetir terkejut bak
mendapatkan kabar angin puting beliung. Bastian terkejut dengan alasan Faisal
yang begitu kejam, sebelumnya tidak ia dengar dari Rihana. Zahra tidak
mengatakan alasan sebenarnya Faisal pada sahabat wanitanya karena ia tidak
ingin sahabatnya membenci Faisal, Zahra hanya terbuka pada Bastian berharap dia
objektif tidak subjektif dalam berkomentar tentang masalahnya tentang faisal.
Bastian pura-pura biasa dan tenang agar sahabatnya
tidak menangis menjadi-jadi. Bastian tahu benar perasaan Zahra yang tidak mau
dikasihani. “Hemm, kalo menurutku mungkin
dia hanya bosan dengan aktifitas kalian yang stagnan dan dia ingin jalan dengan
teman-temannya. Selama ini kan Faisal sangat menghargai kamu, dia tidak jalan
dengan teman wanitanya. Kamu coba kasih Faisal ruang dan waktu, biarkan dia
hilangkan rasa penat dia yang penuh di kerjaan” Nasihat Bastian pada Zahra
sahabatnya yang tidak juga berhenti menangis.
“Tapi kan Bas,
aku ga pernah melarang dia bermain dengan teman wanitanya, yang buat aku sakit
dia bilang bosan dan ingin merasakan jalan dengan wanita lain. Padahal selama
ini tidak ada masalah diantara aku dan Faisal” Jawab Zahra yang masih tidak
mengerti dengan alasan Faisal.
“Yaudah
sekarang kamu biarkan dia berfikir, dan kamu gunakan waktu sebaik-baiknya
seperti memperdalam hobi kamu. Itu akan sangat bermanfaat buat kamu”
Ucap Bastian sambil menenangkan sahabatnya.
“Hemm,”
Gumam Zahra sambil menghapus air mata yang berada di pelopak matanya.
“Udah ah
jangan nangis mulu jelek, ga enak diliat satpam tar dikira aku yang nangisin
kamu” Ucap Bastian sambil bercandain zahra karena sebentar lagi sampai di
apartemen mereka.
Kemudian Zahra tersenyum, sampai di depan apartemen
mereka kemudian mereka pergi beristirahat.
…
Sebulan sudah Zahra dan Faisal tidak bertemu tetapi
Zahra tetap memperhatikan Faisal seperti biasanya dengan mengingatkan lewat
chat, namun Faisal hanya menjawab sekedarnya tanpa memperhatikan balik. Zahra
berharap Faisal akan tetap mencintainya setelah break. Dia berdoa dan menunggu
keputusan Faisal tentang hubungan mereka akankah berlanjut atau berhenti sampai
disini.
Selama sebulan Zahra melakukan aktifitas-aktifitas
sosial bersama sahabat-sahabatnya yaitu Tessa dan Rihana yang membuat hati dia senang. Zahra sudah
ikhlas jika memang Faisal ingin mengakhiri hubungan mereka. Meskipun begitu di
dalam hatinya masih ada secercah harapan bahwa Faisal akan mempertahankannya.
Sedangkan Faisal dia selama sebulan bermain dengan
teman-teman wanitanya selain itu juga jalan dengan wanita lain yang baru dia
kenal. Faisal sangat nyaman dengan keadaanya sekarang bermain dengan banyak
wanita tanpa ada suatu ikatan. Kini ia sudah tidak ada lagi perasaan untuk
zahra karena tergantikan dengan banyak wanita. Selain itu, kini Faisal
memantapkan diri untuk menggapai cita-citanya untuk melanjutkan study
Magisternya yang tertunda. Faisal sudah menetapkan pilihannya untuk
meninggalkan Zahra .
Hari minggu dengan langit yang mendung, Zahra
selesei membereskan taman indahnya dan tidak lupa melihat embun-embun di hujung
rumput membuat hati Zahra sangat tenang.
Zahra
bersiap-siap untuk berangkat ke acara sosial dan setelahnya pergi ke komunitas
ilmiah, hand phone Zahra berbunyi pertanda chat masuk “ Hai Zah, sebulan sudah aku memikirkan hubungan kita, sepertinya kita
akhiri sampai sini. Aku nyaman dengan kondisi aku yang single bisa jalan dengan
siapapun tanpa ada ikatan. Selain itu, aku juga masih banyak cita-cita yang
harus aku capai. Aku berharap kamu menemukan pendamping yang bisa mengerti kamu
dan jauh lebih baik dari aku. Aku laki-laki yang tidak pantas mendampingi
wanita sebaik kamu. Aku jahat Zahra”. Isi kalimat chat Faisal, Zahra
membaca dengan hati yang lapang namun tetap membuat hatinya sakit seperti
daging yang teriris .
Zahra sudah menduga dengan keputusan Faisal,
meskipun dia mencoba menerima dengan lapang tetapi sebagai wanita yang memiliki
perasaan dan harapan besar merasa sangat sakit membaca chat dari laki-laki yang
sangat ia cintai.
Namun begitu, zahra tetap menyikapinya dengan dewasa
“Hai Sal, hemm saya terima kalau memang
itu keputusanmu. Saya tau Allah memiliki rencana lain yang lebih indah untuk
kita berdua. Semoga ini baik untuk aku dan kamu. Aku juga berdoa kamu mendapatkan
yang terbaik dan gapai semua cita-cita kamu. Terimakasih untuk semuanya sal.
Owhya tetapi aku ingin bertemu denganmu untuk membicarakan dengan baik-baik
tentang akhir hubungan kita” Balas zahra yang menerima keputusan Faisal
meskipun bukan ini yang dia inginkan dari akhir keputusan Faisal.
“yaudah kita
minggu depan ketemu yah” Jawab faisal singkat.
Seminggu sudah setelah Faisal berjanji untuk bertemu,
Zahra masih memiliki secuil harapan bahwa Faisal akan kembali padanya. Zahra
yang sedang bersiap-siap untuk bertemu Faisal, terdengar nada handphone
pertanda chat masuk. Zahra segera mengambil handphonenya sambil tersenyum manis
dan melihat chat yang dia tunggu-tunggu. Iya chat itu dari Faisal yang membuat
hati zahra berbunga-bunga, tetapi seketika itu juga bunga langsung layu ketika
membaca chat Faisal “Zah, maaf aku lupa
kalau kita ada janji, ternyata ada yang harus aku urus di kantor yang ga bisa
aku tinggalkan dan sepertinya akan lama. Maaf yah Zah. Bagaimana kalau minggu
depan saja?” isi chat Faisal membatalkan janjinya karena ada urusan kantor
yang tidak bisa dia tinggalkan.
Zahra yang merasa kecewa namun ia tidak bisa
melakukan apa-apa kalau memang itu urusan kantor. Ketika zahra mau menghapus
makeup tipisnya yang senada teringat akan acara sosial bersama
sahabat-sahabatnya. Zahra tidak menghapus makeup nya kemudian pergi ke acara
dimana sahabat-sahabatnya berada yaitu donor darah.
Ketika sampai di tempat acara, suasana begitu ramai.
Terdapat orang yang sedang lemas karena darahnya yang diambil, ada yang
ketakutan jarum, ada yang mau pingsan melihat darahnya diambil sangat banyak.
Zahra menuju sahabatnya berada, di tenda panitia “Hai Tessaaaa” suara Zahra
sedikit keras tapi terdengar lembut memanggil sahabatnya yang sedang
mempersiapkan jarum bersama dokter di sebelahnya.
“Zahra, ibu
keget kirain kamu telat kesini” Ucap
dokter disamping Tessa yang menyukai sifat zahra yang periang karena beberapa
kali mereka bertemu di acara donor darah.
“Bukannya kamu
mau kesini bareng Faisal?” Tanya
Tessa yang sebelumnya Zahra mengabari akan telat dan datang bersama Faisal.
“Hemm ga jadi,
dia sibuk. eh yang lain mana?” Jawab Zahra dengan muka tersenyum tak ingin
sahabatnya melihat kekecewaan dalam hatinya. Zahra memang berniat mengajak
Faisal untuk donor darah tetapi keadaan berkata lain.
“Owh begitu.
Hemm yang lain pada bantuin ngambil darah. Kalo Bastian dia pergi dulu
mengambil susu, habis soalnya” Jawab Tessa yang tidak mau bertanya lebih
dalam kenapa Faisal tidak jadi datang, dia tidak mau melihat sahabatnya kecewa
karena Tessa sangat tahu kalau zahra berharap bertemu Faisal hari ini.
“owh ok, ada
yang perlu aku bantu?” Tanya zahra pada Tessa yang sedang sibuk
mempersiapkan peralatan.
“Kamu nemenin
bu dokter ya zaa” Jawab Tessa sambil memberikan peralatan medis pada Zahra
“Ok” zahra
menerimanya dengan senang hati. Kemudian Zahra pergi membantu bu dokter untuk
mengambil darah pada pendonor.
…
Seminggu setelah pembatalan janji Faisal, Zahra
menyiapkan bajunya untuk bertemu Faisal yang sempat Faisal batalin seminggu
yang lalu. Zahra ingin sekali bertemu dengan Faisal karena sudah satu setengah
bulan tidak bertemu dengannya. Zahra selalu bilang sudah merelakan Faisal,
tetapi hatinya tidak bisa ia bohongin. Dia lagi-lagi memiliki harapan pada
Faisal. Dengan hati yang senang Zahra menunggu chat Faisal “Zah,
sepertinya aku harus batalin pertemuan kita” kalimat chat Faisal mengabari
Zahra kalau janjinya bertemu hari ini dibatalin lagi.
Zahra yang sangat merindukan Faisal harus memabaca
pembatalan janji lagi oleh Faisal. Zahra sedikit tidak menerima pernyataan
Faisal kemudia ia membalas chat Faisal “Tapi
kenapa, bukankah kamu sudah janji?” Balas Zahra dengan sedikit luka
dihatinya.
“Iya maaf,
hari ini aku sibuk. Entar sore aku harus bertemu Rio kemudian malamnya mau
jalan dengan cewek”Jawab Faisal yang tidak memiliki rasa bersalah sama
sekali, dia membatalkan janji hanya untuk bertemu dengan temannya yang setiap
hari bertemu dan tidak menjaga perasaan Zahra dengan gamblangnya dia bilang mau bertemu dengan wanita lain.
Membaca Balasan Faisal membuat hati Zahra remuk
seketika, harapan pada faisal selama ini hilang tanpa bekas. “Yaudah
tidak apa-apa sal” Jawab Zahra singkat. Handphone Zahra pun basah karena
butiran air mata yang menetes dan membasahinya. Pada saat itu juga Zahra
memutuskan untuk tidak lagi mengganggu kehidupan Faisal dan melepaskan dia
bagai tuan melepaskan burungnya dalam sangkar, membiarkan bebas tanpa bayangan
dirinya.
“Mulai saat ini, aku melepaskanmu sal. Tidak
akan lagi aku ganggu kehidupanmu. Harapanku padamu akan aku hilangkan mulai saat ini juga. Bagai
embun dihujung rumput ya tidak ada sesuatu yang abadi selama-lamanya , begitu
juga dengan perasaanku yang tidak akan abadi untukmu. Cukup sampai disini akan
ku tutup rasa ini. Terimakasih atas pijakan selama ini yang kamu beri. Bye faisal”
Ucap zahra dalam hatinya sambil menghapus air mata yang terlalu berharga untuk
menangisi laki-laki seperti Faisal.
…
Tiga tahun sudah Faisal hidup tanpa bayangan Zahra,
wanita yang sangat dewasa dan sangat memperhatikannya. Study magister yang
Faisal jalani pun sudah selesei. Faisal
selama ini jalan dengan wanita-wanita tanpa status, pernah ia mencoba serius
tetapi wanitanya tidak mengerti dia seperti Zahra dulu memperhatikannya. Faisal
merasa bosan dan ingin menjalani hubungan serius dengan wanita yang sifatnya
sama dengan Zahra. Faisal baru menyesali akan keputusannya 3 tahun lalu yang
memutuskan zahra tanpa alasan yang benar, dia memilih jalan dengan
wanita-wanita yang hanya memanfaatkannya.
Pada jam pulang kerja Faisal ada janji makan bersama
dengan seniornya Anton, Faisal dan Anton makan bersama di salah satu restaurant
besar di Jakarta. “Sal, apa rencanamu
setelah lulus menyandang magister nih?”Tanya Anton pada Faisal yang sudah
sangat dekat, apapun keputusan Faisal hanya bisa dia dukung.
“Ga tau aku
bang, nunggu kenaikan jabatan aja bang” Jawab Faisal dengan nada ragu, dia
juga bingung apa keinginan dia selanjutnya.
“Kamu
belum ada niatan nikah? magister sudah kamu sandang, rumah dan mobil sudah kamu
punya. Mau apalagi sekarang?” Tanya Anton menyarankan
laki-laki yang sudah dia anggap adik olehnya untuk merencanakan pernikahan.
“Ada
si bang, tapi aku tidak menemukan wanita sebaik Zahra bang. Selama ini wanita
yang kutemui hanya ingin dimengerti tanpa mau mengerti aku bang. Benar katamu
bang, sekarang aku menyesali telah memutukan Zahra”
Faisal mencurahkan hatinya bahwa salama ini dia menyesali dengan keputusannya
pada tiga tahun lalu.
“Hemm,
benar kata aku kan sal kamu akan menyesali suatu saat nanti dengan keputusanmu.
Tapi ya sudah, semua itu sudah berlalu sekarang kamu cari wanita yang baik-baik
jangan main-main lagi”Anton menasihati Faisal yang dulu tidak
mendengar peringatanya.
Faisal masih tetap merasa menyesal dengan
keputusannya. Faisal ingin bertemu lagi dengan Zahra namun wanita dewasa itu
tidak dapat dihubungi semenjak ia membatalkan janjinya pada 3 tahun lalu. Ia
mencari informasi pada sahabat-sahabatnya yaitu Tessa dan Rihana. Faisal pergi
ke kantor tempat Rihana dan Tessa kerja.
“Bisa bertemu
dengan Rihana? “Tanya Faisal pada receptionist menanyakan Rihana.
“Maaf pak,
kalo mba Rihana sudah pindah dinas” Ucap Receptionist menjelaskan.
“Owh kalau
Tessa ada?” Tanya Faisal lagi, berharap sahabatnya Zahra ada karena hanya
dia sumber satu-satunya saat ini.
“Sebentar pak,
saya panggilkan yah” Jawab Receptionist sambil memanggil Tessa lewat
telepon.
Tidak lama Tessa keluar dan menghampiri laki-laki
yang pernah menyakiti sahabatnya, dia berdiri tegak dengan muka tersenyum.
Sedangkan Tessa memasang muka yang sedikit jutek, dia merasa memasang muka baik
di depan Faisal saja enggan apalagi tersenyum.
“Hai tes, apa
kabar?” Tanya Faisal memulai percakapan setelah lama ia tidak pernah
bertemu dengan Tessa.
Tessa yang masih dengan muka yang sinis “Ya baik, ada apa yah sal ko tumben kesini?”
Jawab Tessa yang tidak balik nanya kabar, tetapi tessa dengan nada menyindir
apa maksud Faisal mendatangi kantor dan bertemu dengannya.
“Hemm, mungkin
kamu masih benci dengan aku. Sungguh aku menyesal atas kesalahan aku 3 tahun
lalu Tes. Sungguh aku minta maaf” Ucap Faisal meminta maaf atas
kesalahannya yang dilakukan pada Zahra sangat jahat dan tidak memikirkan
perasaannya.
“Kemana
aja lu selama ini, what? Lu baru minta maaf sekarang selama 3 tahun berlalu.
Ohh Tuhan betapa jahatnya dia” Gumam Tessa dalama
hatinya yang sangat membenci Faisal.
“Tes”
Panggil Faisal pada Tessa yang hanya diam.
“Oh, kenapa
kamu minta maaf sama aku? Maksud kamu bertemu dengan aku apa sal?” Tanya
Tessa Pura-pura tidak mengerti apa maksud Faisal, Tessa sudah menduga pasti
ingin menanyakan Zahra.
“Iya tes, aku
meminta maaf karena pernah menyakiti Zahra. Sekarang aku menyesal dan ingin
mengetahui kabar Zahra. Aku mencoba hubungi Zahra, Keluarga zahra bahkan
Bastian tidak ada yang bisa dihubungi. Satu-satunya sumber sekarang adalah kamu
Tes, bisakah kamu memberi tahu aku kabar Zahra dimana sekarang?” Tanya
Bastian dengan penuh penyesalan dan matanya yang berkaca-kaca.
“kalau kamu
sudah tau kabar Zahra, terus kamu mau apa sal?” Tanya Zahra masih dengan muka sinisnya
“Aku
mohon Tes, beritahu aku kabar Zahra sekarang dan dia ada dimana. Aku ingin
meminta maaf secara langsung pada Zahra?” Faisal memohon dengan muka memelas ingin tahu
bagaimana kabar Zahra yang susah dihubungi.
“Hemm, iya tidak
lama setelah Zahra diputusin kamu. Ayah Zahra meninggal, kemudian Zahra
mendapat beasiswa ke Jepang dia pergi
melanjutkan study magisternya disana sekaligus membawa ibu beserta adiknya.
Kabar zahra sekarang sangat baik dan aku mohon jangan ganggu kehidupan dia lagi
sal” Tessa menjelaskan kabar Zahra yang sekarang berada di Jepang untuk
melanjutkan Study magister nya dan meminta Faisal untuk tidak datang lagi
dikehidupan Zahra. Tessa Sebenarnya tidak ingin memberitahu Faisal tetapi ia
melihat muka Faisal yang penuh dengan penyesalan dia hanya kasihan dan berharap
setelah mengetahui kabar Zahra, Faisal tidak lagi menganggu sahabatnya.
Faisal mendengar kabar wanita yang pernah ia sakiti bahagia,
membuat Faisal senang mendengarnya. Namun harapanya pudar ketika Tessa berpesan
untuk tidak hadir lagi dikehidupan Zahra.
“Terimakasih
Tes, senang aku mendengarnya. Akan aku ingat pesan kamu untuk tidak mengganggu
Zahra” Ucap Faisal mengakhiri pertemuannya dengan Tessa.
…
Meja penuh dengan dokumen, seorang laki-laki sedang
menulis laporan tetapi selalu salah. Faisal akhir-akhir ini menjadi susah
berkonsentrasi setelah mendengar pernyataan Tessa untuk tidak mengganggu Zahra.
Dalam benak Faisal selalu terbayang dengan wanita yang pernah ia sakiti itu.
Dari arah kanan mejanya datang laki-laki dengan
perut buncit menepuk sambil menyodorkan buku
yang dibawanya “Sal, kamu baca penulis
bukunya” Anton menyuruh Faisal untuk membaca penulis buku bercover gadis
kecil tersenyum melihat langit yang berjudul Tersenyumlah, maka langit ikut tersenyum.
Faisal yang menerima buku langsung melihat Penulis
yang tertera pada bawah pojok kanan cover buku tersebut “Zah….Zahra Permata Indah” Faisal membaca penulis buku tersebut
dengan nada terbatah-batah, ia tidak percaya melihat nama di buku tersebut
adalah wanita yang sangat dia rindukan.
“Istriku
saat di toko buku melihat judul bukunya
tertarik, setelah melihatnya siapa penulisnya langsung dia membeli dan
memberitahu aku. Itu Zahra yang kita kenal bukan?” Anton menjelaskan
bagaimana ia memperoleh buku yang berisi motivasi tersebut dan dia ingin memberitahu
pada Faisal yang selama ini mencari wanita yang dulu pernah disakitinya.
“Bang… Iya ini
tulisan Zahra. Dia sangat suka dengan kalimat ini.” Ucap Faisal bersemangat
setelah mengingat-ingat wanita yang dia cari selama ini sering berucap dengan
kalimat yang sama yaitu Tersenyumlah,
maka langit ikut tersenyum seperti judul buku tersebut.
“Owh
benar Zahra mantan kamu?, aku cari nama penulis di internet, muncul web tapi tidak di Indonesia, dia di
Jepang sal” Ucap Anton yang sempat mencari tahu
siapa penulis yang membuatnya penasaran, namun ia tidak mendapat informasi
kalau itu benar Zahra karena dalam webnya tidak terdapat foto Zahra.
“Iya
bang memang zahra sekarang di Jepang, aku baru tahu setelah ketemu Tessa
kemaren” Faisal semakin yakin itu adalah Zahra yang
sebelumnya diberitahu kalau Zahra berada di Jepang.
Setelah mendengar ada web penulis, Faisal langsung
mencari di komputernya kemudian dia membaca kolom komentar yang sangat banyak.
Faisal terus membaca komentar , berharap ada kabar baru dari sang penulis yaitu
Zahra. Satu per satu Faisal baca dengan seksama, sampai di suatu balasan Zahra
membuat Faisal sangat senang “Yes Dear, for
friends in Indonesia I am comeback to see you all on June 24th “
Isi kalimat balasan zahra untuk pembaca bukunya yang dia panggil teman, dia
akan kembali ke Indonesia untuk bertemu dengan mereka.
Tidak lama setelah membaca balasan komentar Zahra
yang membuatnya sangat senang. Pada pojok kanan bawah layar computer yang
berada di depannnya muncul pemberitahuan email masuk. Pemberitahuan tersebut
membuat Faisal semakin tercengang, kemudian dia klik pemberitahuan tersebut. “Hay Faisal lama kita tidak berjumpa. Maaf
Email kamu baru aku baca karena baru sempat aku baca satu-satu ternyata ada
email kamu. Kabar aku baik dan Aku akan ke Jakarta 24 juni. Semoga kabar kamu
juga baik. Best Regards, Zahra Permata Indah,
Japan” Isi balasan email Zahra yang baru sempat membaca email dari Faisal
setelah 1 tahun ia terima.
Faisal menghubungi zahra dari 1 tahun lalu, setelah
10 kali mengirim email tidak ada balasan Faisal mengira email Zahra sudah tidak
terpakai lagi. Faisal begitu senang membaca email tersebut sampai mukanya yang
kusut menjadi sumringah kemudian ia tidak menunggu lama langsung membalas email
zahra.
“Syukurlah,
senang aku membaca kabarmu zah. Kabar aku juga baik. Iya lama kita tidak
berjumpa zah. Kapan kamu sampai Jakarta?” Balas Faisal dengan hati
senangnya, wanita yang salama ini cari
kabarnya telah membalas email dia
dari 1 tahun lalu.
“Aku sampai
jam 16.00 WIB “ Balasan email Zahra singkat.
…
Pada tanggal 24 juni menunjukkan pukul 15.30 WIB di
Bandara Soekarno-Hatta terdapat laki-laki berdiri di sudut dengan tampilan
senada dan selaras sambil membawa bunga, Faisal menunggu kedatangan Zahra
dengan harapan bisa bertemu dengan wanita yang sekarang menjadi penulis buku Tersenyumlah, maka langit ikut tersenyum.
Bukan hanya Faisal yang menunggu kedatangan Zahra di Bandara, ada beberapa
pembaca buku Zahra yang mengaku penggemar buku-buku Zahra bersiap-siap
menemuinya sambil mengankat papan nama yang bertuliskan “Happy Come Back my monivator Zahra Permata Indah”.
Setengah jam kemudian penumpang pesawat segera
keluar, wanita berjalan mengenakan baju berwarna coklat yang membuatnya telihat
dewasa dan kelem tersenyum sambil menggendong seorang bayi perempuan yang lucu
berusia 1 Tahun. Zahra pulang bersama Bastian, Ibunya beserta bayi kecil yang
digendongnya.
Beberapa pembaca yang mengaku penggemar Zahra
berjumlah 10 orang senyum sumringah menyamput kedatangan Zahra yang kini
menghampiri mereka. Zahra menyambut dengan sangat hangat meskipun ia tak
mengenal satupun diantaranya, ia tidak
menyangka pembaca bukunya telah rela menunggu di Bandara demi bertemu
dengannya.
“Hai
teman-teman apa kabar kalian? Berapa lama kalian menunggu disini?”
Tanya Zahra dengan suara lembut dan hangat beserta senyumannya yang lebar
membuat pipinya merona sambil menggendong bayi kecil lucu.
“ Kami baik
ka, kami menunggu ka Zahra setengah jam yang lalu” Jawab salah satu
penggemar zahra
“Subahnallah…
ka Zahra tidak hanya cantik, hatinya juga baik” Sahut penggemar lainnya.
“Kalian
bisa aja” Ucap Zahra sambil tersipu malu, zahra memberi
tanda tangan dan berfoto bersama dengan pembaca yang mengaku penggemarnya.
Dari arah lain terlihat Tessa datang sedikit
terlambat, ketika Tessa berjalan ia melihat Faisal berdiri di depan yang berada
tidak jauh dari Zahra berdiri bersama keluarga dan penggemarnya.
“Faisal?
Sedang menunggu siapa kamu disini? Tanya Tessa yang heran melihat Faisal
hanya berdiam diri dengan bunga ditangannya.
“Tessa? A..
aku ingin menemui Zahra, Tes.”Jawab Faisal dengan nada terbata-bata melihat
Tessa yang juga ingin bertemu Zahra.
Ketika Tessa ingin melarang Faisal untuk bertemu
Zahra, Ibu Zahra yang berdiri di samping Zahra memanggil “Tessaaa” panggil ibu Zahra tersenyum sambil melambaikan tangan.
Kemudian terlihat Bastian yang menyuruh tessa segera menghampiri mereka.
“Bukankah di
sebelah Tessa itu Faisal?” Ucap Ibu Zahra ragu yang pengelihatanya kurang
bagus akibat usiannya yang mulai menua.
Bastian dan Zahra menengok ke arah Tessa dan Faisal
berdiri “Iya bu benar itu Faisal ”Jawab Bastian membenarkan perkataan ibu
Zahra. Zahra yang melihat Tessa dan Faisal segera menghampiri mereka “Hemm maaf , aku kesana dulu yah bu, bas” Ucap Zahra melangkahkan kakinya menuju tempat
Tessa dan Faisal sambil menggendong bayi perempuan lucu.
“Zahraaa, aku
kangen kamuuu” Tessa lansung memeluk sahabatnya yang sangat di rindukan
semenjak 3 tahun lalu baru kembali ke Indonesia.
Zahra tidak bisa memeluk karena sedang menggendong
bayi “Aku juga kangen kamu sahabatkuu”. Faisal
sangat bahagia bisa melihat Zahra secara dekat, wanita yang dulu pernah ia
sakiti semakin dewasa dan cantik.
“Zahra”
Ucap Faisal tersenyum memanggil wanita yang berada tepat didepannya.
“Hai Faisal,
Apa kabarmu?” Tanya Zahra pada Faisal sambil tersenyum.
“Baik Zah” Jawab Faisal, ketika Faisal ingin
berbicara lebih lanjut. Bayi perempuan yang menggemaskan itu menangis. Bastian
yang berada tidak jauh dari mereka segera datang menghampiri sambil membawa
susu.
“Tenang anak manis kamu laper yah, Dedy
segera datang membawa susu” Ucap Zahra sambil menenangkan Syeina yang terus
menangis.
“Apakah itu
anakmu dengan Bastian zah? Bukankah kamu wanita single sesuai biodatamu di
web?” Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya setelah melihat
bayi lucu yang di gendong Zahra.
“Syeina
sayang, sini sama dedy. Auntie jahat yah” Ucap Bastian
mengambil anaknya dari gendongan Zahra.
Bayi lucu yang di gendong Zahra adalah anak dari
hasil pernikahan Bastian dengan wanita muallaf berkebangsaan Jerman bernama
Alice Bathilda pada 2 tahun lalu. Namun Takdir berkata lain, Istri Bastian
meninggal setelah melahirkan bayi kecil yang lucu bernama Syeina Bathilda. Ibu
zahra yang sudah menganggap bastian anaknya sendiri memilih mengasuh Syeina
ketika Bastian bekerja.
“Ihh anak kamu lucu banget bas, ko mirip Zahra yah
haha” Ledek Tessa pada kedua sahabatnya yang sudah tahu kalau Syeina adalah
anak Bastian dan istrinya.
“Sembaranga,
mirip Zahra tar kurang ajar sama aku. Syeina sangat mirip dengan ibunya Tes”
Ucap Bastian teringat istrinya yang diwariskan ke anaknya. Istri Bastian memang
mirip dengan Zahra sehingga tidak sedikit orang yang mengira Syeina adalah anak
Zahra.
“Hai Bas, apa
kabar? Anak kamu sangat lucu, iya mirip dengan Zahra. Aku kira juga anak kamu
dengan Zahra” Ucap Faisal tersenyum lega ternyata bayi yang ia kira adalah
anak zahra ternyata anak Bastian dengan istrinya bukan denga Zahra.
“hahaha” Tessa,
Bastian dan Zahra tertawa mendengar perkataan Faisal, kemudian Faisal juga ikut
tertawa.
Bastian dan Tessa membiarkan Faisal dan zahra
berbicara berdua, karena mereka tau pasti ada yang ingin mereka bicarakan.
“Zahra aku
sungguh meminta maaf atas kejadian 3 tahun lalu, aku labil saat itu, aku sangat
jahat telah menyakitimu”. Ucap Faisal meminta maaf dengan penuh penyesalan
atas perbuatanya.
“Faisal, aku
sudah melupakan kejadian 3 tahun lalu. Aku juga sudah memaafkanmu semenjak aku
memutuskan untuk pergi dari kehidupan kamu” Jawab Zahra dengan suara
lembutnya bahwa dia sudah memaafkan Faisal semenjak 3 tahun lalu dan dia tidak
ada dendam sedikitpun di dalam hatinya.
“Ada yang
ingin kukatakan padamu zah, Aku menyesal telah menyakitimu dan meninggalkan
kamu demi wanita lain yang tidak jelas. Sekarang ku ingin memulai lagi denganmu
zah. Kali ini aku tidak mengajakmu pacaran tapi ingin mengajakmu ke arah yang
lebih serius yaitu menikah zah. Aku ingin kamu menjadi istriku.” Ajak Faisal pada zahra untuk menikah yang sempat dia
janjikan pada 3 tahun lalu sambil mengeluarkan cincin yang berada di saku
celananya.
Zahra mendengar penyesalan Faisal atas masa lalu
mereka merasa senang karena laki-laki ini akhirnya sadar. Namun ajakan nikah
Faisal tidak bisa dia terima karena 3
bulan kedepan Zahra akan menikah dengan laki-laki muallaf berkebangsaan Jerman
tidak lain sepupu dari Alice Bathilda istri Bastian , Zein Abdullah nama Islam dari
calon suami Zahra.
“Saya merasa
tertegun atas penyesalanmu Sal, tetapi aku tidak bisa menerima ajakan untuk
menikah. karena 3 bulan lagi aku akan menikah dengan laki-laki lain. Sebenarnya
aku pulang ke Indonesia karena ingin mengurus pernikahanku dan pertemuan
keluarga” Jawab Zahra menjelaskan pada Faisal.
Faisal terkejut mendengarnya, wanita yang sangat
baik ini yang dulu pernah ia sia-siakan akan menikah dengan laki-laki lain.
Faisal sangat sedih mendengarnya, hal ini membuat dia semakin menyesal. Namun ia
tidak bisa berbuat apa-apa, Zahra wanita baik yang tidak pantas ia dapatkan.
“Selamat
ya zah, semoga kamu selalu bahagia dengan laki-laki pilihanmu. Aku sangat
bahagia pernah dihadirkan wanita baik sepertimu”
Ucap Faisal berdoa untuk kebahagiaan Zahra.
“Terimakasih
Faisal, aku juga berdoa semoga kamu mendapat wanita yang jauh lebih baik dari
aku, aamiin” Doa zahra tersenyum
dengan nada yang sangat lembut.
“Aamiin”Jawab
Faisal.
“Faisal
cukup bagiku dulu aku mencintaimu, kututup sudah hatiku untukmu semenjak 3
tahun lalu. Aku akan memulai hidup dengan laki-laki pilihanku yang mencintaiku
dengan segala kekuranganku,. Ku doakan semoga kau bahagia dengan pilihanmu.” Ucap
zahra dalam hatinya.
Jangan menyia-nyiakan orang yang kita sayang, jangan
biarkan rasa bosan membuat hatimu tertutup dengan orang yang telah menerima
kekuranganmu. Tidak ada yang abadi di dunia ini bagai Embun di Hujung rumput.
Hati seseorang tidak akan abadi selama-lamanya untuk mencintaimu setelah kau
sia-siakan dan sakiti. Seperti halnya cinta Zahra yang disia-siakan Faisal
akhirnya memilih untuk pergi dan melupakan cinta yang membuatnya sakit.
....
Komentar
Posting Komentar