Tersenyumlah, maka langit ikut tersenyum
Tersenyumlah,
maka langit ikut tersenyum

Senyuman
indah mengiringi langkahku, ku berjalan
menyisir waktu. Setiap langkahku, detik demi detik ku selalu bersamanya.
Dia yang wajahnya tak asing bagiku, membuatku ingin mengenalnya. Aku ingin tahu
siapa dia yang telah membuatku penasaran. Aku mengikuti langkahnya karena rasa
penasaranku semakin tinggi. Ku perhatikan aktivitas dia, terlihat sangat sibuk
bahkan aku yang berada dideketnya tidak dihiraukan. Aku terus mengikutinya,
ketika sedang berjalan menuju keluar rumah dengan membawa tasnya, tiba2 dia
berhenti “ kenapa dia berhenti?” ucapku
dalam hati.
Setelah berhenti dia melihatku “Tuhan
senyumannya begitu manis, kenapa wanita itu tersenyum padaku? Apakah dia mengenaliku?”
di otakku banyak pertanyaan setelah dia memberiku senyuman.
Sebelum
wanita itu pergi, dia mengucapkan salam tetapi pada siapa dia mengucapkan salam
bukankah tidak ada siapa-siapa lagi selain aku dan dia, di ruangan yang tidak
cukup besar ini ku hidup bersamanya . Aku bahagia bisa pergi dengannya “Naik apakah kita? “ ku bertanya padanya.
“Untuk saat ini naek angkot dulu,
insyaallah setelah aku mendapatkan pekerjaan yang layak semoga bisa membeli
kendaraan, Aamiin” Ucap dia kemudian kami naik kendaraan aneh yang berhenti
tepat di depan. “Aamiin” ucapku yang
mengikutinya.
Dalam kendaraan
aneh, padat sekali penumpangnya “What?
Ini kendaraan apa? Sesak sekali dan panas?” Ucapku mengeluh,
kemudian
aku melihat wanita itu yang ku ikuti bermaksud mengeluh dan ingin
turun dari kendaran aneh ini. Ketika Aku melihatnya tidak jadi protes karena
melihat dia tersenyum, terlihat kedamaian di dalam hatinya. Ketika kendaraan
berhenti, ada seorang anak kecil masuk membawa gitar kemudian bernyanyi. “owh dia pengamen” Ucapku.
Suara
pengamen kecil itu tidaklah bagus, tapi cukup untuk hiburan pikirku. Selesei
pengamen kecil itu berhenti bernyanyi, wanita yang aku ikuti membuka dompetnya
terdapat lembaran uang Rp. 20.000 dan uang recehan Rp .2000 “apa? Wanita ini hanya memiliki uang
Rp.22000? kenapa dia mengambil uang, apakah tempat tujuan sudah sampai?” Ucapku
sambil mengintip dompet yang dibukannya.
Aku kira
akan berhenti dan keluar dari kendaraan
yang aneh ini karena dia mengambil uang,
tetapi yang dia lakukan memberi uang recehan itu pada pengamen kecil. “Hey kenapa uang kamu kasih pada pengamen
itu? Bukankah uangmu juga sedikit?” Tanya ku pada wanita itu sedikit kesal,
dia hanya tersenyum.
Tak lama
akhirnya aku keluar dari kendaraan aneh
itu. Aku dan wanita itu berjalan, terdengar suara dari perut wanita itu “Aku lupa belum makan” Ucap wanita itu
memegang perutnya, tepat kami berdiri di samping ada suatu toko, kemudian
wanita itu membeli roti dan susu. Sambil berjalan kami meminum susu.
Setelah
beberapa meter berjalan, wanita itu berhenti di depan rumah minimalis yang di
depannya sudah ada 2 anak sedang menunggunya “ Horeee Ka lia sudah datang” ucap anak kecil berumur 7 tahun “Hai dio, maaf ya kaka sedikit terlambat”
Ucap wanita itu sambil memeluk anak laki-laki kecil itu. “ Waah kaka kita, Lia Pertiwi sudah datang”Ucap laki-laki remaja
berumur 15 Tahun yang menurutku tidak sopan memanggil wanita ini hanya dengan
menyebut namanya saja.
“Jadi wanita ini namanya Lia pertiwi” Ucapku
dalam hati, aku baru tahu namanya semenjak tadi aku mengikutinya.
“Hemm, dasar kamu Rama. panggil kaka! “ Ucap
wanita itu yang bernama Lia pertiwi tegas namun tetap dengan senyuman ramahnya.
“Haha ya ka maaf, masuk yuk” Ajak
Rama pada kami.
“Apa yang dilakukan wanita ini dan siapa
kedua anak ini” Tanyaku bingung.
Salah
satu anak bernama dio mengambil tasnya dan mengeluarkan buku-bukunya. “Gimana tadi ujiannya de, bisa ga?” Tanya
wanita itu pada Dio
“Bisa dong ka, tadi temen Dio mau nyontek
sama Dio terus aku ga mau. Soalnya kata ka Lia kan jangan nyontek atau di
contekin” Ucap Dio dengan polosnya.
Aku dan
wanita itu tersenyum mendengar ucapan Dio.
Wanita itu mengajar Dio dengan penuh kasih sayang. Aku lihat Dio anak
yang pintar tapi suka bercanda, namun wanita itu menghadapinya dengan sabar
tapi tegas. “Jadi wanita ini guru private”
Ucapku dalam hati.
Setelah memberi
materi Dio, selanjutnya wanita itu memberi materi untuk Rama. Sungguh wanita itu terlihat dewasa, menghadapi rama dengan
sangat sabar. Rama tergolong anak yang susah menerima pelajaran dan terlihat malas
untuk belajar.
“Ka, Rama males belajar nih. Aku
mau curhat sama ka lia”
Ucap Rama anak bandel kepada wanita itu.
Aku
melihat Rama sangat kesal , ingin sekali
aku mencubitnya. Tapi ketika aku melihat wanita itu tersenyum, rasa kesal ku
menjadi hilang.
“Rama, kaka udah bilang berulang kali kalo mau
curhat kamu harus belajar dulu. Kita harus memenuhi hak dan kewajiban kita,
kamu punya hak mendapatkan materi dari kaka dan sebaliknya kaka punya kewajiban
memberi materi ke kamu” Ucap wanita itu dengan suara lembutnya. Sungguh aku
lemah ketika mendengar suara dan senyuman manisnya.
“Hemm kaka mah gitu, ok deh kaka cantik”
Goda Rama pada wanita itu. Namun wanita itu tetap dengan senyumannya. Satu jam
setelah Rama belajar, datang seorang wanita setengah baya sekitar berumur 40
tahun dengan membawa tas dan jinjingan di tangannya dan mengucapkan salam.
“Assalamualaikum” Ucap wanita setengah
baya tersenyum.
“Horee ibu pulang”, Ucap Dio kegirangan
menyambut wanita setengah baya itu. Ternyata wanita setengah baya itu ibu dari
Dio dan Rama.
“Hay sayang, kalian sudah selesei belajar. Ka
lia makan bareng yuk, mba bawa makanan kesukaan kamu dan Dio” Ucap wanita
Setengah baya itu mengajak lia.
“Aduh mba, aku ga enak jadi ngerepotin mba
sinta” Ucap wanita itu tersenyum pada ibu Rama dan Dio yang bernama sinta.
Ibu Dio
tersenyum padaku, berarti dia kenal dengan aku. Ketika Ibu Dio mengajak makan,
aku merasa senang sekali karena aku merasa sangat lapar. Aku pikir wanita itu
juga pasti lapar karena dia belum makan roti yang dia beli di jalan tadi.
Tetapi aku sedikit kesal hamper saja makanan itu dia tolak.
“Udah hayuk ka lia cantik, kita makan bareng
sebelum pulang” Ucap ibu Dio memaksa wanita itu.
Karena
aku kesal, aku juga memaksa dia untuk makan “Hayuk lia kita makan, kita belum makan dari siang” Aku tarik
tangannya. Akhirnya wanita itu mau makan. Suasana makan malam sangat akrab, seperti keluarga sendiri.
Ternyata keluarga Dio sudah menganggap Lia sebagai sodara sendiri bukan hanya
seorang guru privat. Keramahan wanita itu membuat orang di sekeliling
menyukainya termasuk aku, dekat denganya menemukan kedamaian. Memang tidak aneh
kalau banyak orang menyukainya, karena dia adalah orang baik.
Aku
menjadi bisa melihat kejadian di kendaraan aneh tadi. Wanita itu tidak ragu
memberikan sebagian uangnya untuk pengamen. kemudian Allah membalasnya dengan makanan
yang sangat enak lewat ibu Dio, Subahanallah.
Selesai
makan akhirnya kita pulang ke rumah. Aku dan Wanita itu di antar oleh Rama
sampai di depan gang perumahan tempat kita menunggu kendaraan aneh . Sambil
menunggu, kami berdiri dan saat itu jalan terlihat sepi. Dari arah samping ada
seorang laki-laki bertanya pada kami “Hallo
mba, sedang menunggu angkot yah” Tanya laki-laki itu genit, aku merasa ada
yang aneh dari laki-laki itu “apa yang akan dilakukan laki-laki ini” Tanyaku
heran. Tetapi lagi-lagi lia menjawab dengan senyum ramah “Iya mas” jawab wanita
itu.
Laki-laki
berpakaian sedikit rapih itu awalnya bertanya baik-baik tapi lama kelamaan
laki-laki bertanya hal yang aneh-aneh, dan sepertinya lia mulai tidak nyaman. Aku
dan wanita itu berjalan menjauhinya, tetapi laki-laki aneh itu terus mengikuti
kami.
Dari
arah berlawanan, ada kendaran aneh yang sebelumnya saya tumpangi. Kemudian aku
dan wanita itu langsung menaiki kendaraan bernama angkutan umum itu. Aku
melihat wanita itu ketakutan, kemudian aku menyuruhnya menarik nafas panjang.
“Alhamdulillah, makasih ya allah Engkau
melindungiku” Ucap wanita itu, hemm kenapa dia mengucap syukur bukannya dia
harusnya marah karena di ganggu oleh laki-laki aneh.
…
Sampai
di rumah sempit, kami bersih-bersih dan tidak lupa untuk beribadah. Selesai
beribadah aku dan wanita itu pergi ke tempat tidur. Aku lihat jam dinding yang
tepat berada di atas kamar tidurku, jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Namun
wanita itu belum juga tidur, dia memegang alat berbentuk kotak bernama
Handphone. Dia memencet tombol itu, kemudian meletakkannya pada telinga. Karena
rasa ingin tahuku apa yang dilakukannya, aku mendekatkan telingaku di handphone
miliknya.
“Hallo assalamualaikum” Ucap wanita itu
mengawali pembicaraan, terdengar suara dari arah sebrang
“Waalaikum salam, lia bagaimana aktivitas
kamu hari ini” Tanya suara laki-laki yang aku dengar.
“Alhamdulillah lancar Rio, tapi tadi ada
sedikit kejadian. Ada laki-laki dia nanya padaku, terus aku jawab. Ehh
lama-lama dia nanyanya semakin aneh dan kurang ajar . Aku menjauhinya tapi dia
terus ikutin aku. Aku takut sekali Rio, untungnya ada angkot jadi aku langsung
naik sehinggam aku bisa terlepas dari laki-laki aneh itu.” Curhat Lia pada laki-laki di sebrang.
Rio
adalah laki-laki yang dekat dengan wanita itu, mereka adalah teman baik. Rio
adalah laki-laki yang dekat dengan Lia
setelah keluarganya, masalah apapun selalu ia bicarakan dengannya karena bagi
Lia, Rio sudah seperti kakaknya. Rio adalah orang yang sangat tegas, terkadang
dia memarahi Lia karena sifat Lia yang terlalu ramah dengan orang lain.
“Tuh kan apa aku bilang , kamu jangan terlalu
ramah ke orang hahaha. Jadi orang suka gangguin, kamu harus bersikap jutek
dihadapan orang Lia. Aku ga mau kamu digodaen orang apalagi orangnya tidak
jelas.” Ucap Rio ketawa dengan nada sedikit marah karena ga mau melihat
orang yang disayanginya di ganggu oleh orang lain.
Tapi
menurutku Rio jahat sekali, kenapa dia tertawa saat Lia curhat. Dan kenapa dia
mnyuruh Lia harus jutek, bukankah Lia hatus jadi diri dia. Menurutku yang terpenting adalah Lia bisa jaga
diri, selain itu juga aku yang selalu menjaganya. Selama aku bersama lia, dia
tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kenapa laki-laki itu marah pada Lia.
“Rio kamu kan tau, aku memang seperti ini. Kenapa
aku harus jadi orang lain? Selama aku baik-baik saja dan ga kenapa-kenapa berarti
aku ga salah. Aku tau saat aku harus ramah dan ga. ketika aku sudah mulai
merasa aneh pada orang maka aku menjauh” Ucap wanita itu meneteskan air
matanya lalu dia usap kembali tidak ingin tangisannya di dengar oleh Rio.
“Tuhan hati wanita itu begitu rapuh,
janganlah menangis hai wanita berhati baik” Ucapku menenangkannya.
“Yaudah kalo menurut kamu seperti itu, yang
penting kamu bisa jaga diri yah. Aku tadi terlalu khawatir sama kamu dan aku
tetap ga suka dengan sikap ramah kamu ke semua orang. Aku takut akan
membahayakan kamu. Di kota besar ini jarang orang baik. Prinsip kamu tidak
cocok diterapkan disini” Ucap Rio yang tetap tidak suka dengan prinsip Lia
yaitu jika kita baik maka orang akan baik pada kita.
Setelah
percakapan selesei, wanita itu menangis “Hei
Lia, kenapa kamu menangis?” Tanya ku padanya, dia tetap menangis.
“Rio aku cuma mau didengar, kenapa kamu selalu nyalahin prinsipku. Bukankah dalam
islam juga mengatakan kebaikan kita buat kita sendiri, kejahatan kita buat
kejahatan kita sendiri dan aku percaya itu. Aku ingin menanamkan kebaikan untuk
kebaikan aku sendiri. Dan ingin sekali aku buktikan bahwa masih banyak orang
baik di dunia ini Rio “ Ucap wanita itu sambil menangis, dan aku mencoba menenangkannya. Tapi entah kenapa hati
aku juga begitu sakit ketika melihat dia menangis, air matanya yang mengalir
membuat pipinya basah. “Kenapa dengan
aku, kenapa hati ini sakit sekali seperti hatiku tergores” Ucapku dalam
hati. Ingin sekali aku menenangkannya, tapi mulutku terkunci, tanganku seperti lumpuh tiba-tiba
hingga aku tidak bisa apa-apa umtuk menenangkan wanita itu.
Malam
semakin larut, aku dan wanita itu tertidur lelap.
…
Keesokan harinya aku terbangun kemudian
langsung melihat wanita itu “Apakah dia
masih menangis?” Tanya ku dalam hati. Tapi aku tercengang ketika melihat
wanita itu terseyum lebar menyambut sinar di pagi hari. Kemudian aku tengok
langit, sinar begitu cerah bagai langit ikut tersenyum melihat wanita itu
tersenyum. Sungguh langitpun merasakan kedamaian wanita itu, aku sangat bahagia
menjadi bagiannya.
“Waw, sudahkah kau lupa akan tangisanmu
semalam hey wanita? “ Tanya ku takjub, lagi-lagi dia hanya tersenyum. Dia
beranjak dari kamar tidurnya lalu beres-beres untuk agenda dia hari ini. Aku
hanya berdiam diri, menatapnya dengan seksama sedangkan wanita itu asik dengan
kesibukannya.
Seperti
biasa dia membawa tasnya lalu sebelum berangkat dia tersenyum padaku. Aku ikut
bersamanya, lagi-lagi aku harus naek kendaraan aneh. Tidak lama naek kendaraan
, wanita itu berhenti aku pun ikut
bersamanya.
Wanita
itu berjalan ke tempat yang penuh dengan obat, dan terlihat tulisan apotek di
sebuah papan took itu. Wanita itu memesan sebuah obat pada pelayan “ Untuk siapakah dia membeli obat ? apakah dia
sakit, bukankah dia baik-baik saja” Ucapku dalam hati ketika wanita itu
memesan obat.
Setelah
selesai membeli obat, wanita itu dan aku melanjutkan perjalanan menaiki kendaraan
aneh lagi. Kami memilih duduk di depan bersama supir, tiba-tiba wanita itu memberhentikan
pak supir yang sedang asik mengendarai.
“Bang, bisa berhenti dulu?” Tanya wanita
itu dengan suara lembut.
“Kenapa neng? Neng mau turun?” Tanya pak
supir pada wanita itu.
“Tidak bang, di depan ada kakek yang mau
menyebrang. Kasian bang, kalau bukan kita yang mengalah tar kakek ga bisa
menyebrang” Ucap wanita itu sambil tersenyum.
Kendaraan
aneh itu pun berhenti, kemudian wanita itu memberi kode sambil tersenyum pada
kakek mempersilahkan menyebrang. Akhirnya kakek pun bisa menyebrang setelah
sekian lama menunggu kendaraan kosong.
Supir angkot yang duduk di sebelah wanita itu tertegun melihat
kebaikannya.
“Subhanallah neng, hatimu begitu
lembut bukankah anak muda sekarang masa bodoh dengan lingkungan. Abang saja
kadang malas neng membantu orang karena tidak ada yang tahu terimakasih malahan kadang di copet lah,
jambret lah”
Ucap supir angkot sambil tertegun melihat wanita itu.
“Ya allah bang, kita kan hidup di dunia itu cuma
sebentar. Apa salahnya kita isi dengan sebuah kebaikan. Kalo kita mau menolong
dengan hati ikhlas Insya allah hati kita tenang tanpa perlu memikirkan apakah
yang kita tolong berterimakasih pada kita atau tidak. Masalah di copet atau di
jambret, Insyaallah akan di ganti yang lebih baik. Aamiin” Ucap wanita itu
tersenyum
Percakapan
mereka terhenti ketika wanita itu harus berhenti tepat di stasiun, disana
berdiri seorang laki-laki tinggi dengan pakaian baju senada dengan wanita itu.
Kemudian wanita itu turun, begitu juga denganku yang selalu mengikutinya.
Laki-laki yang berdiri tersenyum pada kami berdua “hemm siapa laki-laki
itu?”tanyaku dalam hati.
“Hai Lia, kenapa naek angkot si? Kenapa ga
mau aku jemput ? kamu jadi telat dan aku kepanasan” Tanya laki-laki itu
marah-marah pada Lia.
“ Hemm siapa si laki-laki ini, kok marah-marah
sama Lia” Gumamku kesal dalam hati, ingin sekali rasanya aku mencabut kumis
tipisnya itu. Kemudian aku tengok wanita
itu, lagi-lagi dia menghadapinya dengan senyuman.
“Yaudah gak usah pake nada tinggi juga Rio,
aku tadi ada urusan sebentar” Ucap wanita itu tersenyum dengan nada sangat lembut.
Mendengar
suara Wanita itu sepertinya Rio tidak bisa apa-apa, walaupun dia marah karena
wanita itu tidak mau di jemput olehnya. Kemudian kami pergi menuju pintu masuk
stasiun kereta dan menaiki kereta menuju Kota. Aku mengikuti mereka, tapi aku
tidak tau kemana mereka akan pergi.
Sepanjang
naek kereta kami duduk. Ketika kereta
berhenti di suatu stasiun, datang seorang wanita separuh baya dengan anaknya
berumur 7 tahun. Aku sedang duduk santai melihat pemandangan kota di jendela,
tiba-tiba wanita itu menengok ke arah kanan dan kiri mencari tempat duduk
kosong untuk wanita separuh baya dan anaknya. Namun sudah tidak ada lagi bangku
kosong pada gerbong kereta yang kami naiki. Wanita itu berdiri kemudian
mempersilahkan Wanita separuh baya duduk bersama anaknya.
“Silakan bu duduk” Ucap wanita itu
mempersilakan wanita separuh baya. Aku melihat Lia berdiri sedikit kesal. “Kenapa harus dia yang berdiri, bukankah di
gerbong ini mayoritas laki-laki. Ok sekarang derajat wanita dan laki-laki sama,
tetapi apakah mereka tidak memiliki hati nurani yang membiarkan ibu-ibu berdiri
dan akhirnya wanita muda yang mengalah?” Gumamku kesal dalam hati, Apakah
secuek itu orang-orang yang tinggal di
kota ini.
Rio yang
tadi tidur di sebelah Lia, kemudian bangun melihat disampingnya bukan lagi Lia,
melainkan wanita separuh baya dan anaknya langsung kaget. Kemudian Rio berdiri
mempersilahkan wanita itu duduk di tempatnya.
“Lia ayo
cepet kamu duduk” Rio menyuruh wanita itu duduk di tempatnya, tapi wanita itu
tidak segera duduk karena masih ada lagi yang lebih di prioritaskan menurutnya.
Di samping tidak jauh dari wanita itu ada seorang anak perempuan kemudian
wanita itu menyuruhnya duduk di tempat Rio.
Aku
merasa sangat tertegun dengan kebaikan wanita itu, “Tuhan siapakah wanita itu, yang selalu aku ikutin kemana dia pergi.
Tapi sampai saat ini, aku masih tidak tau siapa dia. Aku ingin sekali
menjaganya dan biarkan aku selalu bersamanya. Tuhan, Engkau begitu maha besar
telah menciptakan dia yang hatinya sangat baik dan tulus”.
To be
Continue…
Komentar
Posting Komentar