Cerpen "Pelangi di Penghujung Hujan"
Pelangi di Penghujung Hujan
Sang mentari pagi
menunjukkan sinarnya, di suatu kampus begitu ramai. Mahasiswa berjalan kesana
kemari melakukan aktivitas masing masing. Pemandangan seperti ini akan selalu
ditemukan di dunia kampus .
Seorang gadis yang baru menginjak
dunia kampus, baru saja ia lulus dari sekolah favoritnya. Sebut saja namanya
VIZHA NAKHLUNNISA, ia adalah mahasiswa baru tahun pertama yang harus terbiasa hidup
mandiri, jauh dari orang tua.
Hari pertama masuk, ia harus
bangun kesiangan dimana pada semasa di rumah selalu dibangunkan oleh ibunya. Ia
harus terburu-buru menuju kampus dihari pertamanya. Di perjalanan ketika menuju
ruang kuliah, vizha harus terjatuh karena menabrak seseorang yang juga
mahasiswa baru.
“maaf… maaf…”
Ucap vizha dengan rasa
penuh bersalah sambil mengambil buku berceceran milik pria bernama “ HABIBI
FIRMANSYAH” yang tertera di salah satu buku tebal yang juga milik pria
tersebut.
“ya tidak apa-apa.. saya juga minta maaf”, Suara itu begitu lembut
terdengar namun tegas. Ternyata pria itu juga sedang terburu-buru mencari kelas
pertamanya.
“ya sama-sama.. J kamu pasti sedang terburu-buru” , ucapku tersenyum sambil
menyerahkan buku pria tersebut.
“ya.. aku dulu yah”
Sebuah pertemuan klasik
yang biasa terlihat di sinetron pikir vizha. Pria itu juga tersenyum, ia
terlihat berkharisma berjalan dengan pasti. Tidak terasa pria itu hilang dari
pandangannya. vizha segera pergi ke kelas pertamanya.
…
Tempat duduk yang jauh
berbeda ketika ia lihat semasa sekolah dulu. Tempat duduk yang dilengkapi meja
yang menyatu, ia merasa akan bosan tanpa ditemani teman sabangkunya lagi.
Datang seorang dosen yang
bertubuh gagah dengan membawa tas ditangannya. Berbeda dengan bayangannya saat
duduk di bangku SMA, seorang dosen di pikirannya adalah orang yang berkepala
botak dan menyeramkan.
Saat pertemuan selesai
dosen langsung memberi tugas kelompok dan nama-nama kelompok sudah tertera di
mading.
“dengarkan baik-baik, kelompok yang sudah di tentukan adalah
kelompok selama 1 semester dan tidak ada yang berpindah kelompok!”, ucap pak dosen dengan
tegas.
“sumpah.. niat banget dosen itu sampai kelompok saja sudah di
tentukan”, celoteh seorang mahasiswa yang duduk tepat di sampaing vizha bernama IRMA
DAMAYANTI.
“hai, saya Irma”, sapanya sambil mengulurkan tangannya.
“vizha”
Hari itu menjadi hari
pertama pertemanan keduannya. Mereka keluar bersama-sama melihat daftar
kelompok yang sudah ditentukan. Ketika melihat daftar, Irma sangat senang
karena satu kelompok dengan vizha, teman yang baru saja dikenalinya.
“wah kita jodoh ternyata kita satu kelompok, gue seneng banget bisa
sekelompok dengan lu zha. Siapa lagi ya satunya..??”
Dibarisan selanjutnya
tertera nama “HABIBI FIRMANSYAH”.
“apakah pria itu?”, Tanya vizha dalam hatinya.
“napa lu bengong? Ayo kita ke kantin. Gue udah laper”
Ajak Irma sambil menarik
tangan vizha yang sedang melamun itu. Ketika di kantin tiba seorang pria yang
pernah dilihat oleh vizha pagi tadi.
“permisi, apakah kalian yang bernama Vizha Nakhlunnisa dan Irma Damayanti?”, Tanya pria itu.
“bener itu nama kita berdua, lo siapa?”, Tanya Irma dengan heran.
“saya habibi, teman satu kelompok kalian!”
Suara itu sangat di sukai
oleh vizha, terdengar lembut tapi tegas. Vizha hanya terdiam karena bingung apa
yang harus ia lakukan. Mereka membuat janji untuk mengerjakan tugas bersama.
…
Kerja kelompok pertama
kali di perpustakaan, terlihat Habibi sudah menunggu di tempat yang strategis ,
tempat dimana bisa melihat danau yang indah dan asri di luar kaca. Tak lama
habibi menunggu, vizha pun datang.
“hai, lama nunggu yah?”, Tanya vizha mengawali.
“hai, ga ko.. mana Irma?”
“hmm, aku di suruh duluan. Tapi bentar lagi nyampe ko katanya…
J”, jawab vizha tersenyum menghilangkan rasa kakunya saat melihat habibi. Setelah itu mereka saling duduk
terdiam, dari arah pintu terlihat Irma bersama seorang pria sedang bergandengan
tangan.
“sorry ya teman-teman gue telat, tadi mobil cowo gue mogok. kenalin
ini hendri pacar gue..”, ucap Irma sambil memperkenalkan pacarnya.
Sepanjang waktu mengerjakan tugas, suasana terlihat
kikuk. Irma merasa heran dengan suasana yang sangat kaku. Mungkin ini adalah
awal jadi masih kaku diantara mereka untuk berbicara.
…
Lama-lama Irma semakin
penasaran dengan vizha setiap mengerjakan tugas bersama. vizha sangat terlihat
berbeda, ketika sedang bersamanya vizha suka tertawa lepas, tapi ketika bertemu habibi sikap vizha berubah 180áµ’
menjadi wanita yang diam tanpa kata. Untuk memastikan kecurigaan kepada temennya
, irma bertanya pada vizha.
“zha, kenapa si ko lo kaku banget kalau ada habibi? Kalau
sama gue, lo fine-fine aja kayanya.”, Tanya Irma tanpa basa-basi terlebih
dahulu.
Vizha tercenganag dengan
pertanyaan yang diajukan oleh Irma yang dianggapnya sahabat itu.
“ga ko…”, jawab vizha mencoba menampikkan pertanyaan Irma.
“jangan bohong lo ama gue, meskipun baru 5 bulan kita
berteman. Gue tau siapa kamu, ayo cerita sama gue. Apa yang sebenarnya terjadi
diantara kalian?”
vizha merasa tersiksa
dengan perasaan yang terus menghantuinya. Dengan ragu gadis ini menceritakan
apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya.
“ketika
bertemu habibi, saat pertama kali masuk kuliah aku menabraknya. Semenjak itu
hatiku selalu berdebar tanpa alasan tiap kali bertemu dengannya ma.”
“ya tuhan, selama ini gue ga tau apa yang lo rasain. hmm…gimana
kalo gue tanya ke habibi dulu?”,
Irma terkejut dengan pernyataan sahabatnya, tapi ia
senang karena sahabatnya mau bercerita dan kecurigaanya telah terjawab sudah.
“jangan ma, aku takut kalau dia ga suka. Aku liat habibi cuek
dan sepertinya ia ga suka denganku ma.”, vizha takut kalau mendengar habibi
tidak menyukainya, dan ia khawatir ketika habibi tau ia menyukainya pria itu
akan menjauh.
Menurut vizha lebih baik
hubungan dengan habibi seperti sekarang ini sudah cukup baginya, bisa bertemu
dan berbicara dengan habibi meskipun tidak banyak yang dibicarakan diantara
keduannya. Vizha sudah merasa cukup daripada ia harus jauh dengan pria yang
diam-diam ia sukai itu.
“tapi kalau lu ga bilang tentang perasaan lu, lu ga bakal tau
isi hati habibi yng sebenarnya zha”
“gak papa ko ma, lebih
baik seperti ini mencintainya dalam diam. sudah cukup bagiku untuk bisa melihat
dan berbicara dengannya.”
“ ya ampun zha, lu akan tersakiti oleh perasaan lu sendiri”
Kekukuhan vizha untuk
menyembunyikan perasaannya membuat Irma tidak bisa memaksa temanya untuk
mengatakan isi hatinya.
…
Momen yang membuat hati
vizha berdegup dengan sangat kencang, yaitu ketika mengerjakan tugas bareng
habibi. Hari itu Irma tidak bisa hadir, ia sengaja membiarkan vizha bisa
berduaan dengan habibi.
Suasana menjadi kikuk,
vizha yang pada saat itu memakai baju pink dengan paduan putih yang sangat
menawan membuatnya terlihat sangat cantik dan habibi yang memakai kemeja biru,
mereka hanya saling diam tanpa kata. Habibi merasa tidak nyaman, ia sebagai
pria mencoba untuk memulai percakapan
terlebih dahulu.
“zha, kamu terlihat cantik hari ini”, tanpa disadari spontan
keluar dari mulut habibi. Ia menjadi salah tingkah.
“ah?”, jawab vizha tidak yakin dengan kalimat yang ia dengar
barusan.
Perasaan vizha seperti
dijatuhin benda yang sangat keras. Kalimat yang tidak pernah duga oleh vizha
sebelumnya. Pria sangat cuek yang dikenalinya mengatakan hal yang jauh di luar
fikiran vizha.
Mereka belum memulai sama
sekali mengerjakan tugas.
“ owh ya, zha kamu selesain bagian yang awal, kalau bi bagian keduannya ya…”
Ucap habibi memulai untuk
mengerjakan tugas, seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Habibi begitu
hangat hingga vizha tidak bisa mempercayai hari itu, ia bisa berbicara dengan
habibi.
“ya Tuhanku apakah ini sebuah mimpi? Jika memang ini hanya
mimpi, ini adalah mimpi yang terindah selama hidupku. Terimakasih ya Robb”
Habibi terlihat begitu
berbeda dengan sebelumnya sangat cuek dan terkesan tak peduli. Lain halnya
ketika itu, ia begitu lembut dan sering tertawa lepas. Tawa yang begitu indah,
vizha baru kali pertama melihatnya. Habibi seperti memiliki 2 kepribadian yang
bertolak belakang.
Tugas mereka selesai jua.
Sebenarnya vizha tidak ingin segera beranjak dari tempat itu, namun karena ada
agenda lain terpaksa vizha pergi.
“selesai juga tugas kita, aku pergi dulu ya bi…”, pamit vizha dengan rasa
berat meninggalkan habibi sendiri.
“ya, hati-hati zha…” ucap habibi dengan lembut.
Vizha begitu senang dengan
hari ini, ia berencana menceritakan semua kejadian yang ia alami bersama habibi
kepada sahabatnya Irma.
…
Vizha dan Irma pergi ke
kampus bersama, ketika di jalan mereka melihat teman satu kelompok mereka. Pria
itu terlihat seperti biasanya cuek tapi cool,ia hanya menyapa dengan senyuman
seperti tidak ada yang terjadi antara vizha dengan dirinya. Vizha merasa heran
dengan sikap habibi yang mudah berubah kapanpun yang ia inginkan.
“zha, ko habibi tidak menyapamu? Ia tidak terlihat seperti
yang kamu ceritakan”, Tanya Irma yang juga heran dengan sikap habibi.
“entahlah ma.. aku juga ga ngerti.. udah biarin aja, kita masuk yoo”, Vizha mencoba tak peduli tapi sebenarnya hati
vizha seperti tercabik-cabik .
Dari tempat duduknya,
diam-diam habibi memperhatikan vizha. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang
dilakukannya terhadap vizha.
“maafkan aku zha, ku tau hatimu pasti sakit. Tapi ini harus
kulakukan demi kebaikan kita bersama. Aku sungguh menyayangimu karena Robbku,
maka ku harus menjaga rasa ini. Tidak akan ku biarkan kamu terbuai akan tipu
daya syaitan yang akan menyesatkan jika kita berdua bersama.” , gumam habibi dalam
hatinya.
Setelah kuliah selesai,
vizha langung lari ke toilet. Irma sebagai temanya langsung mengikuti kemana
temannya pergi. Di dalam toilet terdengar suara isak tangis dan Irma mengenali
suara itu, tangisan sahabatnya yaitu vizha.
“zha, kenapa lu? Ayo keluar kalau mau nangis, di bahu gue
aja!”, ucap
Irma yang khawatir dengan sahabatnya. Tak lama kemudian vizha keluar dan
langsung memeluk Irma.
“Aku ga kuat menghadapi semua ini ma,aku benci dengan rasa
ini, ia terus menghantuiku. Ku coba berkali-kali untuk bisa melupakanya, tapi
entah kenapa itu semua tidak pernah berhasil. Yang ada rasa ini semakin dalam
untuk mencintai habibi.”
“zha, daripada lu tersiksa begini katakan perasaan lu
kapadanya. Zaman sekarang tidak lagi memandang siapa yang duluan, baik cewek
maupun cowok sama aja. Jangan besarkan gengsi kamu dan membiarkan hatimu sakit
zha.”
Irma membujuk vizha, namun
vizha tetep kekeh dengan pendiriannya. Ia akan pendam dalam-dalam perasaanya
pada habibi entah sampai kapan perasaan itu akan hilang.
Vizha merasa dirinya adalah
seorang wanita. Wanita harus menjaga sifatnya dihadapan seorang pria. Ia akan
menunggu pria untuk mengatakan kepada orangtuannya secara gentel siapaun pria
itu. Ia berfikir mungkin habibi bukanlah jodoh yang Tuhan kirimkan untuknya.
Ia lebih baik diam, karena
diam adalah mutiara bagi seorang wanita.
“aku akan tetap diam. Diam untuk mencintaimu bi, sampai
kapanpun aku tidak akan mengatakanya lebih dulu. Akan ku serahkan sepenuhnya
rasaku pada Robbku. Mungkin kamu bukanlah jodoh yang dipilihkan Tuhan untukku.
Cintaku tetap dalam diam terhadapmu,ini takdirku untuk mencintaimu tanpa
balasan darimu. Rasa ini begitu sakit melihatmu, ingin sekali ku bisa
melupakanmu tapi ku serahkan pada waktu untuk menjawabnya”
…
Hari yang membahagiakan
bagi mahasiswa yang sedang wisuda hari ini. Begitu juga dengan vizha dan Irma
mereka wisuda barsama karena sebelumnya mereka berdua sudah merencanakan agar
bisa wisuda bersama. Bukan hanya mereka berdua, habibi jua wisuda di hari yang
sama. Seharusnya habibi diwisuda pada kloter pertama, namun karena ia ingin
melihat vizha ia memindahkan wisudanya pada hari yang sama dengan wanita yang
sangat ia cintai.
“zha, itu habibi kan? Bukankah ia di wisuda pada kloter
pertama? Ko bisa dia sekarang wisudanya?”
Tanya Irma heran sambil
menepuk bahu Irma. Vizha yang juga menyadari akan kehadiran habibi, ia langsung
mencari habibi. Vizha hanya ingin
mengatakan salam perpisahan pada pria yang ia sukai dalam diam itu. Namun ,
habibi tiba-tiba menghilang dari pandangan vizha.
Setelah menyadari kalau vizha
mencarinya, segera habibi menjauh dari
pandangan vizha. Ia mempunyai alasan untuk tidak bertemu dengan viza.
“zha, maafin aku. Aku tau kamu mencintaiku, begitu juga
denganku yang sangat mencintaimu bahkan cintaku lebih besar darimu, andai saja
kau tau itu. Ingin sekali ku bisa mendekatimu dan bisa selalu bersamamu. Tapi
sekarang bukanlah waktunya. Ku harus capai tujuanku sebelum ku bisa hidup
bersamamu. Setelah semuannya selesai, aku janji akan mendatangmu di hadapan
kedua orang tuamu. Semoga kamu tetap mencintaiku sampai ku mewujudkan
semuannya. Jaga hatimu bidadari surgaku”
Habibi langsung
meninggalkan acara tanpa bekas, karena sudah puas melihat wanita yang ia cintai
bahagia diwisuda.
Irma menarik tangan vizha
yang sedang mencari habibi untuk berfoto bersama.
…
Tiga bulan setelah wisuda,
vizha baru bertemu lagi dengan Irma. Tidak lama mereka bertemu sudah ada kabar
bahagia yang terdengar dari hubungan Irma dengan pacarnya.
“bulan depan gue nikah sama hendri zha, pokoknya lo harus datang!
ada yang ingin gua kenalin ke lo.”
“waw,, selamat yah. Teganya kamu meninggalkan aku ma.”
Di acara pernikahan Irma
dan suaminya, vizha datang tanpa pasangan.
“ma selamat yah kalian
udah ninggalin aku..:(“
“tenang sahabatku, ada seseorang yang ingin gue kenalin sama
lo.”
Irma memanggil sepupu
hendri, ia adalah pria yang cukup tampan, mapan dan berwibawa namanya MUHAMMAD
ZIDAN.
“perkenalkan ini Muhammad zidan ia baru lulus S1 tapi ia
sudah jadi pengusaha lo zha, dan ini perkenalkan Vizha nahlunnisa wanita yang
susah didapatkan. Pria yang cakep-cakep diluar sana ditolaknya mentah-mentah”
Irma memperkanalkan
keduanya bertujuan untuk menjodohkan mereka.
“wah, wanita idaman”, jawab zidan tersenyum. Sepertinya ia
langsung tertarik melihat wanita yang begitu cantik dengan balutan jilbab yang
senada dan seirama.
“apaan si ma, jangan dengerin dia bohong ko”, jawab vizha menampiknya,
ia tau motif di balik perkenalan yang dilakukan sahabatnya. Vizha melihat di
sekelilingnya, tidak terlihat sama sekali batang hidung habibi.
Irma dan hendri pergi
membiarkan keduannya saling mengenal. Vizha dan zidan pun berbincang-bincang.
Namun vizha tidak punya perasaan sama sekali dengan zidan, ia hanya menganggap
zidan sebagai teman.
Setiap pria yang
mendatanginnya, vizha tidak pernah menyukai dari salah satunya.
Ketika zidan mencoba
mengungkapkan perasaannya. Vizha menangis karena ia tidak tau dengan
perasaannya. Ia masih belum menerima pria dalam hatinya untuk menggantikan
Habibi.
“maafkan aku dan, aku tidak bisa menerimamu. Aku tak ingin
membohongi perasaanku, karena ini hanya akan menyakitimu”
Zidan mengerti dengan
keputusan vizha. Zidan tahu cinta tidak bisa dipaksakan.
…
Tiga tahun sudah vizha menyandang gelar S1 nya, kini ia menjadi manager dari salah satu perusahaan
ternama di Indonesia.
Ketika ia pulang usai dari
kantornya, di rumah terlihat sepatu sekitar
5 pasang yang berjejer di depan terasnya.
Sampai di ruang tamu
terlihat seseorang tidak asing baginya, seorang pria yang sangat ia cintai
yaitu Habibi dan keempat orang lainnya terlihat seorang wanita yang seumuran
dengan ibunya yang terlihat cantik, dan tiga pria dewasa menyambut vizha dengan
senyuman.
“habibi?”, ucap vizha yang penuh tanda Tanya.
“ya zha, ini saya.. J”, Habibi menjawabnya dengan
suara khasnya yang lembut namun tegas.
Salah satu laki-laki
dewasa itu mengutarakan maksud mereka ke rumah vizha. Maksud mereka adalah
untuk melamar vizha atas permintaan Habibi.
Ternyata Habibi mempunyai
rencana yang indah selama jauh dari vizha. Ia kini menjadi seorang pengusaha
yang sukses, ia ingin ketika melamar vizha sudah menjadi seorang pria yang
pantas untuk meminang wanita yang sangat ia cintai itu.
“Aku ingin meminangmu dengan bismillah bidadari surgaku…”
Begitu lembut kata-kata
yang keluar dari mulut Habibi, sontak membuat orang yang berada di ruangan
tersebut terkejut sekaligus terharu. Orangtua vizha baru mengetahui kalau
selama ini anaknya begitu mencintai pemuda yang sangat baik budi pekertinya
itu.
Tidak terasa air mata
vizha menetes, setiap wanita akan terharu ketika di lamar oleh seseorang yang
di cintainya. Dan pria tersebut langsung melamarnya di depan kedua orangtuanya.
Setelah penantian dari
keduannya, mereka memperoleh buah yang sangat manis. Bak pelangi di penghujung
hujan . Setelah hujan, maka terbitlah pelangi indah. Mereka bisa hidup bersama
dengan bahagia dan menjadi pasangan yang sakinnah, mawaddah dan warokhmah serta
di karuniai anak yang sholeh dan
sholehah. Aamiin
Memang rencana Tuhan tidak
ada yang tau. Ia akan memberikan hadiah yang manis bagi hamba-hamba Nya yang bersabar.
So, kita harus sabar dalam hidup ini apapun itu masalahnya tetap naik.
…
Komentar
Posting Komentar